<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>"in quotes"</title>
	<atom:link href="http://hannykardinata.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hannykardinata.wordpress.com</link>
	<description>Hanny Kardinata's Forum</description>
	<lastBuildDate>Sat, 14 Jan 2012 05:17:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='hannykardinata.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>"in quotes"</title>
		<link>http://hannykardinata.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://hannykardinata.wordpress.com/osd.xml" title="&#34;in quotes&#34;" />
	<atom:link rel='hub' href='http://hannykardinata.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>My Diary</title>
		<link>http://hannykardinata.wordpress.com/2011/03/04/my-diary/</link>
		<comments>http://hannykardinata.wordpress.com/2011/03/04/my-diary/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Mar 2011 02:24:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hannykardinata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Spirituality]]></category>
		<category><![CDATA[Adila Suwarmo]]></category>
		<category><![CDATA[Alan Parker]]></category>
		<category><![CDATA[Andi S Boediman]]></category>
		<category><![CDATA[Arief 'Ayip' Budiman]]></category>
		<category><![CDATA[Bambang Widodo]]></category>
		<category><![CDATA[Bima Shaw]]></category>
		<category><![CDATA[Bwee Wisudha]]></category>
		<category><![CDATA[Caroline F. Soenarko]]></category>
		<category><![CDATA[Danu Widhyatmoko]]></category>
		<category><![CDATA[Darmadji]]></category>
		<category><![CDATA[Erie Haryanto]]></category>
		<category><![CDATA[Hanny Kardinata]]></category>
		<category><![CDATA[Henricus Kusbiantoro]]></category>
		<category><![CDATA[Herawati Boediono]]></category>
		<category><![CDATA[Hermawan Tanzil]]></category>
		<category><![CDATA[Iwan Ramelan]]></category>
		<category><![CDATA[Jerry Ferda]]></category>
		<category><![CDATA[Jerry Ferdan]]></category>
		<category><![CDATA[Juni KF Djamaloeddin]]></category>
		<category><![CDATA[Kiki Rizky Fitria Hakim]]></category>
		<category><![CDATA[KPU (Komisi Pemilihan Umum)]]></category>
		<category><![CDATA[M. Arief Budiman]]></category>
		<category><![CDATA[Mississippi Burning]]></category>
		<category><![CDATA[Myra Widiono]]></category>
		<category><![CDATA[Noor Wulan]]></category>
		<category><![CDATA[Pramudji Suginawan]]></category>
		<category><![CDATA[Sakti Makki]]></category>
		<category><![CDATA[Sharmi Ranti]]></category>
		<category><![CDATA[Siti Turmini]]></category>
		<category><![CDATA[Susi Abdulrachman]]></category>
		<category><![CDATA[Syafriadi S Yatim]]></category>
		<category><![CDATA[UIC Design School]]></category>
		<category><![CDATA[Yongky Safanayong]]></category>
		<category><![CDATA[Yusi Pareanom]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hannykardinata.wordpress.com/?p=164</guid>
		<description><![CDATA[04.02.11 Tunisia, Jordania, Mesir dan kini Libya. 6000 lebih nyawa melayang. Tujuh pagi. Kelopak matanya mengecil. Lidahnya menjilat perlahan tanganku. Kasihnya yang tulus terasa begitu damai. Kedamaian yang terasa hanya jika kita sendiri merasa damai. Perang adalah ekspresi dari diri kita sendiri, akumulasi dari dominasi, ambisi, keserakahan. Kita ikut bertanggungjawab. . . . . . [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hannykardinata.wordpress.com&amp;blog=848682&amp;post=164&amp;subd=hannykardinata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>04.02.11</strong></p>
<p>Tunisia, Jordania, Mesir dan kini Libya. 6000 lebih nyawa melayang.</p>
<p>Tujuh pagi. Kelopak matanya mengecil. Lidahnya menjilat perlahan tanganku. Kasihnya yang tulus terasa begitu damai. Kedamaian yang terasa hanya jika kita sendiri merasa damai. Perang adalah ekspresi dari diri kita sendiri, akumulasi dari dominasi, ambisi, keserakahan. Kita ikut bertanggungjawab.</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>4.4.11, 14.30-17.00, Oenpao Bintaro</strong></p>
<p>Perbincangan luar biasa dengan tiga pendekar grafis. Tentang garis, sinergi antar bentuk, hingga warna yang sebaiknya otoriter atau demokratis. Waktu terasa pendek. Seharusnya pertemuan seperti ini lebih sering terjadi. Selamat jalan kembali ke Bali kepada Ayip, dan ke Yogya kepada Arief Budiman.</p>
<p><a href="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2011/03/oenpao-4-4-11-1.jpg"><img src="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2011/03/oenpao-4-4-11-1.jpg?w=600&#038;h=313" alt="" title="oenpao 4.4.11-1" width="600" height="313" class="alignnone size-full wp-image-189" /></a></p>
<p><em>Ki-ka: Bima Shaw (Chairman ADGI Jakarta Chapter), Hanny Kardinata, Ayip Bali (Chairman ADGI Pusat) dan M. Arief Budiman (Program Director ADGI Pusat).<br />
</em></p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p>AGRESIFITAS DI SEKITAR KITA</p>
<p><strong>9.4.11. Menonton ulang &#8220;Mississippi Burning&#8221; nya Alan Parker di MGM Channel.</strong></p>
<p>Film yang mencekam karena penyajian yang realis menggambarkan kisah nyata rasisme di kota Mississippi tahun 1964. Rumah-rumah dibakar menambah panas hawa yang memang sudah sangat panas siang ini. Darimana datangnya kebencian? Bawaan sejak lahir? Diajarkan oleh lingkungan? Bagaimana sebuah bangsa bisa merasa lebih superior daripada yang lainnya? Bukankah hal serupa masih berlangsung terus hingga saat ini? Dalam skala yang mungkin lebih kecil, mewarnai berbagai segi kehidupan di sekitar kita? Perusakan rumah ibadah? Penolakan terhadap pernikahan beda etnik? Pembedaan perlakuan terhadap sesama warga negara oleh otoritas tertentu, dan sebagainya?</p>
<p><a href="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2011/03/mississippi-burning.jpg"><img src="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2011/03/mississippi-burning.jpg?w=199&#038;h=300" alt="" title="Mississippi Burning" width="199" height="300" class="alignnone size-medium wp-image-193" /></a></p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p>DOA BISA MENGUBAH YANG TIDAK MUNGKIN</p>
<p><strong>30.4.11</strong></p>
<p>Kemarin (29.4.11) jumpa mas Iwan Ramelan di acara launching UIC Design School di fX lifestyle X&#8217;nter. Kiki (Kiki Rizky Fitria Hakim) seperti bersorak kegirangan ketika memberitahu saya mengenai kedatangan mas Iwan. Setelah mengalami stroke yang begitu dahsyat (3.11.10), jelas sekali bahwa secara visual mas Iwan masih mengenali semua teman-temannya, walau secara verbal tidak. Dia menunjuk-nunjuk Oline ketika melihat Caroline di kejauhan, tapi ketika saya bilang itu Oline dia sama sekali tidak bereaksi. Tadi siang (30.4.11), di resto Moscatly, Pondok Indah, ada kejadian kecil yang menakjubkan sekaligus mengharukan. Di tengah obrolan santai bersama keluarga dan teman-teman lamanya, tiba-tiba mas Iwan menunjuk saya dan dengan fasih mengingatkan kejadian ketika saya menjadi juara ke-2 lomba poster cinta produk Indonesia yang kemudian diubah menjadi juara pertama setelah ketahuan bahwa desain juara pertama sebelumnya adalah hasil contekan. Luar biasa, mengingat kejadian itu menurut Yongky (Yongky Safanayong) yang duduk di depannya terjadi di tahun 1985! Mas Iwan juga ingat sekali pada pertemuan berlima di rumah Yongky (10.7.10) yang diadakan untuk menyambut seseorang yang katanya &#8220;datang dari Amerika&#8221;, walau dia lupa nama Chacha (Bambang Widodo) <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />  Melihat mas Iwan seperti menyaksikan sebuah keajaiban, sekaligus merasakan betapa dahsyatnya kekuatan doa. Karena itu, kalau ada teman atau keluarga yang sakit atau tengah berduka, jangan pernah lupa berdoa baginya, seperti kesaksian Icus (Henricus Kusbiantoro) bahwa &#8220;doa bisa mengubah yang tidak mungkin&#8221;.</p>
<p><a href="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2011/03/img_9518.jpg"><img src="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2011/03/img_9518.jpg?w=600&#038;h=400" alt="" title="IMG_9518" width="600" height="400" class="size-full wp-image-198" /></a></p>
<p><em>10.7.10. Rumah Yongky Safanayong. Ki-ka: Iwan Ramelan, Bwee Wisudha, Bambang Widodo, Hanny Kardinata dan Yongky Safanayong. Danu Widhyatmoko tidak nampak di foto ini.</em></p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>8.6.11</strong></p>
<p><a href="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2011/03/persiapan-scopa-dia-lo-gue-artspace-8-6-11.jpg"><img src="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2011/03/persiapan-scopa-dia-lo-gue-artspace-8-6-11.jpg?w=600&#038;h=398" alt="" title="Persiapan SCOPA-dia.lo.gue artspace-8.6.11" width="600" height="398" class="alignnone size-full wp-image-214" /></a></p>
<p><em>Persiapan penjurian SCOPA JUBILEE (2012) bersama para <a href="http://www.scopajubilee.com/judges.html">juri</a> dan panitia di Dia.lo.gue Artspace, Jakarta. Ki-ka: Arief (Surya Palacejaya), Andi S. Budiman, Sakti Makki, Hermawan Tanzil, Pramudji Suginawan (Surya Palacejaya), Ayip, Hanny Kardinata</em></p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>3.9.11</strong></p>
<p><a href="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2011/03/hanny-erie-3-9-11-crop-1.jpg"><img src="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2011/03/hanny-erie-3-9-11-crop-1.jpg?w=600" alt="" title="Hanny, Erie-3.9.11-crop 1"   class="alignnone size-full wp-image-212" /></a></p>
<p><em>Di depan rumah di Bintaro, bersama Erie Haryanto, teman sekelas di SMP Petra, Surabaya.</em></p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>28-29.9.11</strong></p>
<p><a href="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2011/03/diskusi-penjurian-kompetisi-kpu.jpg"><img src="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2011/03/diskusi-penjurian-kompetisi-kpu.jpg?w=600&#038;h=398" alt="" title="Diskusi penjurian kompetisi KPU (Komisi Pemilihan Umum)" width="600" height="398" class="alignnone size-full wp-image-224" /></a></p>
<p><em>Di tengah proses penjurian bersama anggota KPU dan anggota dewan juri <a href="http://www.kpu.go.id/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=6620&amp;Itemid=181">lomba desain poster dan flyer KPU</a>, berdiri: Syafriadi S Yatim, duduk: Siti Turmini dan Jerry Ferdan. Kenangan ini diambil pada hari ke-2 penjurian, di Hotel Sahid. Hari pertama penjurian berlangsung di Hotel Ibis Arcadia.</em></p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>6.12.11</strong></p>
<p><a href="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2011/03/rumah-wapres-di-jl-diponegoro-6-12-11-2.jpg"><img src="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2011/03/rumah-wapres-di-jl-diponegoro-6-12-11-2.jpg?w=600&#038;h=400" alt="" title="SONY DSC" width="600" height="400" class="alignnone size-full wp-image-229" /></a></p>
<p><em>Bersama Ibu Boediono, para pengurus Dekranas dan tim kreatif &#8220;Permata Tersembunyi Kalimantan Timur&#8221;, di rumah dinas Wapres Boediono, Jl. Diponegoro 2, Jakarta, 6.12.11. Dari kiri-kanan: Susi Abdulrachman, Juni KF Djamaloeddin, Adila Suwarmo, Noor Wulan, Hanny Kardinata, Herawati Boediono, Sharmi Ranti, Yusi Pareanom, Darmadji, Myra Widiono.</em></p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>12 s/d 13.1.12</strong></p>
<p>Penjurian <a href="http://www.scopajubilee.com/">SCOPA Award 2012</a> di Club House, Damai Indah Golf, Serpong</p>
<p><a href="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2011/03/penjurian-scopa-award-2012-1.jpg"><img src="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2011/03/penjurian-scopa-award-2012-1.jpg?w=600&#038;h=450" alt="" title="Penjurian SCOPA Award 2012-1" width="600" height="450" class="alignnone size-full wp-image-232" /></a></p>
<p><em><a href="http://www.scopajubilee.com/judges.html">Dewan juri SCOPA Award</a>. Ki-ka: Arief &#8216;Ayip&#8217; Budiman, Andi S Boediman, Hermawan Tanzil, Hanny Kardinata, Sakti Makki.</em></p>
<p><a href="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2011/03/penjurian-scopa-jubilee-damai-indah-golf-serpong-12-1-12.jpg"><img src="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2011/03/penjurian-scopa-jubilee-damai-indah-golf-serpong-12-1-12.jpg?w=600&#038;h=450" alt="" title="Penjurian SCOPA Jubilee-Damai Indah Golf, Serpong-12.1.12" width="600" height="450" class="alignnone size-full wp-image-233" /></a></p>
<p><em>Ki-ka: Sakti Makki, Pramudji Suginawan, Hanny Kardinata, Hermawan Tanzil, Arief &#8216;Ayip&#8217; Budiman, Andi S Boediman.</em></p>
<p>•••</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hannykardinata.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hannykardinata.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hannykardinata.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hannykardinata.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hannykardinata.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hannykardinata.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hannykardinata.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hannykardinata.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hannykardinata.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hannykardinata.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hannykardinata.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hannykardinata.wordpress.com/164/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hannykardinata.wordpress.com/164/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hannykardinata.wordpress.com/164/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hannykardinata.wordpress.com&amp;blog=848682&amp;post=164&amp;subd=hannykardinata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hannykardinata.wordpress.com/2011/03/04/my-diary/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ec48f37e3142c8d4ac349568b3ffe183?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hannykardinata</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2011/03/oenpao-4-4-11-1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">oenpao 4.4.11-1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2011/03/mississippi-burning.jpg?w=199" medium="image">
			<media:title type="html">Mississippi Burning</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2011/03/img_9518.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">IMG_9518</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2011/03/persiapan-scopa-dia-lo-gue-artspace-8-6-11.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Persiapan SCOPA-dia.lo.gue artspace-8.6.11</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2011/03/hanny-erie-3-9-11-crop-1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Hanny, Erie-3.9.11-crop 1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2011/03/diskusi-penjurian-kompetisi-kpu.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Diskusi penjurian kompetisi KPU (Komisi Pemilihan Umum)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2011/03/rumah-wapres-di-jl-diponegoro-6-12-11-2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">SONY DSC</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2011/03/penjurian-scopa-award-2012-1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Penjurian SCOPA Award 2012-1</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2011/03/penjurian-scopa-jubilee-damai-indah-golf-serpong-12-1-12.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Penjurian SCOPA Jubilee-Damai Indah Golf, Serpong-12.1.12</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kata Sambutan untuk Buku &#8220;Hurufontipografi&#8221;</title>
		<link>http://hannykardinata.wordpress.com/2010/11/22/kata-sambutan-untuk-buku-hurufontipografi/</link>
		<comments>http://hannykardinata.wordpress.com/2010/11/22/kata-sambutan-untuk-buku-hurufontipografi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Nov 2010 03:00:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hannykardinata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Design]]></category>
		<category><![CDATA[2010]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[Hurufontipografi]]></category>
		<category><![CDATA[Surianto Rustan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hannykardinata.wordpress.com/?p=127</guid>
		<description><![CDATA[Di Indonesia, hingga sekitar tahun 1960/70an, istilah tipografi belumlah begitu dikenal sebagaimana pengertiannya sekarang. Pada masa itu, tugas-tugas di kampus desain masih dikenal dengan nama lettering; mahasiswa harus membuat huruf dengan tangan (hand-drawn lettering), dimana ketrampilan menggunakan kuas dan cat poster (gouache) menjadi batu ujian utama dalam menentukan kualitas sebuah karya. Legibility dan readability menjadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hannykardinata.wordpress.com&amp;blog=848682&amp;post=127&amp;subd=hannykardinata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2010/11/cover-front.jpg"><img src="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2010/11/cover-front.jpg?w=600&#038;h=823" alt="" title="cover-front" width="600" height="823" class="alignnone size-full wp-image-131" /></a></p>
<p>Di Indonesia, hingga sekitar tahun 1960/70an, istilah tipografi belumlah begitu dikenal sebagaimana pengertiannya sekarang. Pada masa itu, tugas-tugas di kampus desain masih dikenal dengan nama <em>lettering</em>; mahasiswa harus membuat huruf dengan tangan (<em>hand-drawn lettering</em>), dimana ketrampilan menggunakan kuas dan cat poster (<em>gouache</em>) menjadi batu ujian utama dalam menentukan kualitas sebuah karya. <em>Legibility</em> dan <em>readability</em> menjadi sesuatu yang tidak mudah dicapai mengingat faktor optis yang bisa berubah ketika huruf-huruf masih &#8216;diset&#8217; dengan pensil dengan ketika sudah diisi dengan warna (<em>filled</em>), apalagi kalau latar belakangnya berwarna pula. Bekerja dengan mengandalkan ketrampilan tangan masih menjadi satu-satunya pilihan teknis saat itu.</p>
<p>Memasuki tahun 1970an, artis-artis di kantor-kantor agensi periklanan di Indonesia sudah mulai menggunakan huruf gosok (<em>instant lettering dry transfer</em>) untuk menset <em>headline</em> iklan, yang paling populer saat itu adalah yang diproduksi oleh Letraset (Inggris), Mecanorma (Perancis) dan belakangan oleh Rugos (Indonesia). Sementara untuk naskah iklan (<em>body copy</em>) diset dengan mesin tik IBM. Baru pada periode berikutnya yaitu pada pertengahan 1970an mesin elektrik ini digantikan oleh mesin <em>phototypesetting</em> yang diproduksi oleh Compugraphic, yaitu mesin setting huruf yang menggunakan proses fotografis (<em>output</em>-nya berupa kertas bromide, kertas foto yang mengandung bahan kimia perak bromida).</p>
<p>Desain grafis termasuk tipografi kemudian mengalami perkembangannya yang paling revolusioner ketika komputer Macintosh mulai dikenal di Indonesia semenjak paruh kedua tahun 1980an. Proses pekerjaan yang sebelumnya dilakukan dengan sistem <em>manual</em> diambil alih sepenuhnya oleh komputer. Tangan digantikan oleh pixel, <em>free hand</em> oleh vector. Komputer menjanjikan kemudahan-kemudahan yang tak terbayangkan sebelumnya, dan menjelang pergantian milenium, semakin banyak saja desainer grafis yang menjadi semakin bergantung pada komputer.</p>
<p>Tetapi di Amerika, memasuki dekade pertama tahun 2000an, di tengah eforia penggunaan komputer, <em>hand-drawn lettering</em> justru populer kembali. Gejalanya sudah terlihat beberapa tahun sebelumnya ketika <em>grunge typography</em> menjadi begitu populer (termasuk juga di Indonesia) antara lain melalui David Carson (disebut-sebut sebagai &#8220;<em>The Father of Grunge Design</em>&#8220;) yang menggunakan tipografi sebagai medium untuk berekspresi. Steven Heller bahkan menyebut dasawarsa pertama tahun 2000 ini sebagai &#8220;<em>The Decade of Dirty Design</em>&#8220;, suatu dekade dimana generasi baru desainer grafis berpaling kembali ke penggunaan tangan (<em>to get back to the hand</em>): “<em>Mastery of the computer’s options meant that by the end of the 20th century a new generation of designers were commanding much more than merely Illustrator, Quark and Photoshop programs—they had figured out how to wed technique to concept, and produce design that often had an exterior life other than the client’s message</em>.“ Maka terbentanglah kini pilihan-pilihan teknis dalam berkarya, sepenuhnya memakai komputer (<em>digital</em>), atau menggunakan tangan saja (<em>anti-digital</em>) atau menggunakan kedua-duanya secara bersamaan. </p>
<p>Dan dibandingkan dengan masa di mana <em>hand-drawn lettering</em> masih merupakan satu-satunya pilihan, di depan mata kini tersedia ratusan ribu jenis fonts untuk dipilih dan dipakai, suatu ‘kemudahan’ yang sungguh bisa menyulitkan. Desainer masa kini pun dituntut untuk pandai-pandai menentukan pilihannya, yang ditengarai oleh Heller sebagai “<em>a critically exciting time to be a graphic designer</em>”.</p>
<p>Buku &#8220;Tipografi&#8221; buah karya Surianto Rustan ini diharapkan akan membantu desainer-desainer Indonesia masa kini untuk memilih dan menggunakan font dengan baik dan benar, serta sukses menghadirkan <em>message</em> yang diusungnya secara estetis. Surianto Rustan, dengan ketekunan dan kerja kerasnya, telah melahirkan sebuah buku yang komprehensif mengenai tipografi, sejak dari awal sejarahnya, mengenal anatomi huruf, mengidentifikasinya, hingga memilih dan kemudian mengeksplorasinya. </p>
<p>Dengan rasa syukur saya mengucapkan selamat atas terbitnya buku &#8220;Tipografi&#8221;, semoga bermanfaat bagi perkembangan desain grafis Indonesia umumnya dan tipografi khususnya.</p>
<p>Hanny Kardinata<br />
<em>Founder</em> DGI (Desain Grafis Indonesia)<br />
www.DGI-Indonesia.com</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p>Artikel terkait: <a href="http://dgi-indonesia.com/buku-baru-karya-surianto-rustan-hurufontipografi/">Buku Baru Karya Surianto Rustan: “Hurufontipografi”</a></p>
<p>•••</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hannykardinata.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hannykardinata.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hannykardinata.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hannykardinata.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hannykardinata.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hannykardinata.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hannykardinata.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hannykardinata.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hannykardinata.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hannykardinata.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hannykardinata.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hannykardinata.wordpress.com/127/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hannykardinata.wordpress.com/127/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hannykardinata.wordpress.com/127/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hannykardinata.wordpress.com&amp;blog=848682&amp;post=127&amp;subd=hannykardinata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hannykardinata.wordpress.com/2010/11/22/kata-sambutan-untuk-buku-hurufontipografi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ec48f37e3142c8d4ac349568b3ffe183?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hannykardinata</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2010/11/cover-front.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">cover-front</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Riak-riak Desain Grafis Indonesia: 1970-sekarang*</title>
		<link>http://hannykardinata.wordpress.com/2010/11/09/riak-riak-desain-grafis-indonesia-1970-sekarang/</link>
		<comments>http://hannykardinata.wordpress.com/2010/11/09/riak-riak-desain-grafis-indonesia-1970-sekarang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Nov 2010 14:29:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hannykardinata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Design]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hannykardinata.wordpress.com/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Hanny Kardinata Suatu hari pada pertengahan 1975, seusai acara wisuda di aula STSRI “ASRI” di jalan Gampingan, Yogyakarta, saya berada dalam perjalanan ke rumah makan Ayam Goreng Kalasan “Suharti” membonceng sepeda motor Honda yang dikemudikan oleh Fadjar Sidik (1930-2004), Ketua Jurusan Seni Lukis waktu itu (yang oleh seniman-seniman Yogyakarta dianggap sebagai Bapak Seni Lukis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hannykardinata.wordpress.com&amp;blog=848682&amp;post=117&amp;subd=hannykardinata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Oleh Hanny Kardinata</em></p>
<p>Suatu hari pada pertengahan 1975, seusai acara wisuda di aula STSRI “ASRI” di jalan Gampingan, Yogyakarta, saya berada dalam perjalanan ke rumah makan Ayam Goreng Kalasan “Suharti” membonceng sepeda motor Honda yang dikemudikan oleh <a href="http://www.bentarabudaya.com/seniman.php?g=F&amp;lg=id&amp;id=42">Fadjar Sidik</a> (1930-2004), Ketua Jurusan Seni Lukis waktu itu (yang oleh seniman-seniman Yogyakarta dianggap sebagai Bapak Seni Lukis Modern Indonesia). [1] “Kamu mesti ke Jakarta, Han” katanya, “Kalau sudah menguasai Jakarta, yang lainnya lebih mudah”. Rupanya begitulah citra umum mengenai Jakarta tahun 1970an, diakibatkan oleh politik Orde Baru yang serba sentralistik, yang mengubah wajah Jakarta bagai magnet bagi angkatan kerja, termasuk calon desainer grafis. Di bawah pemerintahan Soeharto, kondisi politik yang dengan berbagai cara diupayakan stabil itu telah berakibat pada derasnya investasi asing yang masuk, menjadi bahan bakar bagi pembangunan infrastruktur di segala sektor, terutama di kota Jakarta.</p>
<p>Terlepas dari sepiring nasi hangat dengan ayam goreng lezat yang kami nikmati sesudahnya, acara wisudanya sendiri berjalan sangat singkat, serba dingin dan kaku, dan menegangkan. Bayangkan, mungkin baru kali itu pernah terjadi dalam sejarah pendidikan di Indonesia, bahkan di dunia, bahwa sebuah acara wisuda perguruan tinggi (kecuali mungkin di AKABRI) dipimpin oleh seorang petinggi militer, sementara semua pintu masuk ke kampus dijaga ketat oleh tentara, dan hanya yang berkepentingan atau yang tidak termasuk di dalam daftar hitam yang diijinkan masuk.</p>
<p>Peristiwa tersebut di atas saya alami ketika dunia seni rupa Indonesia, terutama di STSRI “ASRI”, dan juga FSRD ITB, baru saja diguncang oleh peristiwa yang disebut Desember Hitam, yang pecah di ujung tahun 1974, adalah sebuah gerakan perlawanan para seniman muda yang diawali dengan protes terhadap pemberian penghargaan pemerintah kepada lima pelukis, yang karyanya dikritisi sebagai bercorak ragam sama (seragam) yaitu dekoratif, dan lebih mengabdi kepada kepentingan ‘konsumtif’.</p>
<p><span id="more-117"></span></p>
<p><a href="http://dgi-indonesia.com/yang-sempat-saya-catat-sebelum-dan-sesudah-pagelaran-seni-rupa-baru-1977/"><strong>Gerakan Seni Rupa Baru (1975)</strong></a></p>
<p>Peristiwa Desember Hitam itu adalah cikal bakal terbentuknya Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) pada tahun 1975 yang kelak menghantarkan dunia seni rupa Indonesia ke pemahaman baru mengenai estetika, pengungkapan nilai dan fungsi seni. Bagi GSRB, kesenian tidak harus dikategorikan menurut jenjang, ada kesenian kelas wahid dan ada kesenian kelas kambing. GSRB menolak batasan antara seni murni dan seni terap, dan semua fenomena kesenian termasuk desain pun dianggap sederajat. Sepanjang perjalanannya (1975-1979, 1987), eksponen GSRB yang juga desainer grafis tercatat antara lain <a href="http://dgi-indonesia.com/fx-harsono/">FX Harsono</a>, <a href="http://dgi-indonesia.com/s-prinka/">Syahrinur Prinka</a> (1947-2004), <a href="http://dgi-indonesia.com/wagiono-sunarto/">Wagiono Sunarto</a>, <a href="http://dgi-indonesia.com/priyanto-sunarto/">Priyanto Sunarto</a>, Gendut Riyanto (1955-2003), Harris Purnama dan Oentarto.</p>
<p><a href="http://dgi-indonesia.com/pameran-rancangan-grafis-hanny-gauri-didit/"><strong>Pameran desain grafis pertama di Indonesia</strong></a></p>
<p>Spirit untuk tidak lagi mempercayai penjenjangan antara seni murni dan seni terap menghantar tiga desainer grafis mengabarkan eksistensinya melalui sebuah pameran desain grafis di Pusat Kebudayaan Belanda “Erasmus Huis” pada tanggal 16-24 Juni 1980, sebuah riak kecil yang mengusung misi utama memperkenalkan profesi desainer grafis ke publik yang lebih luas. Pameran bertajuk “Pameran Rancangan Grafis <a href="http://dgi-indonesia.com/hanny-kardinata/">Hanny</a>, <a href="http://dgi-indonesia.com/gauri-nasution/">Gauri</a>, Didit” ini kelak tercatat sebagai pameran desain grafis pertama di Indonesia yang diadakan oleh desainer grafis Indonesia. [2]</p>
<p><a href="http://dgi-indonesia.com/ipgi-lahirnya-sebuah-horison-baru-yang-cerah/"><strong>Organisasi desainer grafis pertama di Indonesia</strong></a></p>
<p>Pameran itu juga menjadi ajang berkumpulnya desainer-desainer grafis masa itu yang sedang menggalang pertemuan-pertemuan intensif di jalan Padalarang 1-A, Jakarta – kantor majalah “Visi” (d/h “Maskulin”) dan “Sport Otak” – untuk mempersiapkan dibentuknya sebuah organisasi yang mewadahi desainer grafis Indonesia. Organisasi ini kemudian diresmikan pada tanggal 24 September 1980 dengan nama IPGI (Ikatan Perancang Grafis Indonesia) bersamaan dengan penyelenggaraan sebuah pameran besar bertajuk “<a href="http://dgi-indonesia.com/pengantar-ikatan-perancang-grafis-indonesia/">Grafis ‘80</a>” di Wisma Seni Mitra Budaya, Jalan Tanjung 34, Jakarta. Inilah upaya terbesar desainer grafis angkatan ‘70 untuk menyatakan eksistensinya, agar masyarakat apresiatif terhadap bidang ini. “Pameran itu seolah menyadarkan kita, bahwa seni tak hanya yang bisa kita tonton dalam pertunjukan formal saja, tapi juga pada yang melekat dalam kehidupan sehari-hari kita”. [3]</p>
<p><strong>Studio-studio desain grafis pertama di Indonesia</strong></p>
<p>Sepanjang tahun 1970 dan seterusnya mulai bertumbuh perusahaan-perusahaan desain grafis yang sepenuhnya dipimpin oleh desainer grafis. Berbeda dengan biro iklan, perusahaan-perusahaan ini mengkhususkan diri pada desain non-iklan, semuanya berada di Jakarta: Vision (Karnadi Mardio), Grapik Grapos Indonesia (<a href="http://dgi-indonesia.com/wagiono-sunarto/">Wagiono Sunarto</a>, <a href="http://dgi-indonesia.com/priyanto-sunarto/">Priyanto Sunarto</a>, <a href="http://dgi-indonesia.com/prinka-perancang-penggambar-guru/">S Prinka</a>), Citra Indonesia (<a href="http://dgi-indonesia.com/catatan-kecil-mengenai-tjahjono-abdi/">Tjahjono Abdi</a>, <a href="http://dgi-indonesia.com/hanny-kardinata/">Hanny Kardinata</a>) dan GUA Graphic (<a href="http://dgi-indonesia.com/gauri-nasution/">Gauri Nasution</a>). Dan pada dekade berikutnya, di Jakarta muncul antara lain Gugus Grafis (<a href="http://dgi-indonesia.com/fx-harsono/">FX Harsono</a>, Gendut Riyanto), Polygon (Ade Rastiardi, Agoes Joesoef), Adwitya Alembana (<a href="http://dgi-indonesia.com/riswanto-ramelan/">Iwan Ramelan</a>, Djodjo Gozali), Headline (Sita Subijakto), BD+A (<a href="http://dgi-indonesia.com/irvan-a-noeman-m-id/">Irvan Noe’man</a>), dan di Bandung: Zee Studio (Iman Sujudi, Donny Rachmansjah), MD Grafik (<a href="http://dgi-indonesia.com/markoes-djajadiningrat/">Markoes Djajadiningrat</a>), Studio “OK!” (<a href="http://dgi-indonesia.com/indarsjah-tirtawidjaja/">Indarsjah Tirtawidjaja</a>) dan lain-lain.</p>
<p>Setiap studio membawa serta kekhasannya masing-masing sebagai akibat dari ‘ideologi’ desainernya. Misi keIndonesiaan menuntun cara kerja Citra Indonesia dalam mengolah karya-karya desainnya. Di dalam Citra Indonesia ada seorang tokoh budaya, SJH Damais, yang menjadi ‘kamus berjalan’ bagi pendekatan-pendekatan yang ingin diterapkan. Sementara Gugus Grafis berupaya setia dengan ideologi GSRB-nya walau tidak seluruh nilai dan praksis seni rupa kontemporer bisa diterapkan pada semua kesempatan yang didapat. Pada tahun 1973 ada Decenta (Design Centre Association) di Bandung, yang terlibat <a href="http://dgi-indonesia.com/ad-pirous/">AD Pirous</a>, G Sidharta, Adrian Palar, Sunaryo, <a href="http://dgi-indonesia.com/t-sutanto/">T Sutanto</a>, <a href="http://dgi-indonesia.com/priyanto-sunarto/">Priyanto Sunarto</a>. Saat itu ada pertentangan antara pandangan bahwa seni itu universal dengan pandangan seni yang digali dari bumi sendiri. Decenta menjadi tempat menggali khasanah Indonesia yang diterapkan dalam seni (grafis, lukis, patung) dan desain (pameran, elemen estetis, furnitur, <em>curtain</em>, <em>greeting card</em>, sampul buku). Pendekatannya formal atau total, formal melalui olahan artefak budaya, dan total melalui penghayatan terhadap spirit yang hidup dalam masyarakat tradisi. Meski bukan studio desain grafis, Decenta sudah melayani pekerjaan-pekerjaan desain grafis (walau masih sedikit).</p>
<p>Pada masa ini, studio mana pun ‘dituntut’ bisa mengerjakan pekerjaan apa pun, klien datang dengan pekerjaan mulai dari desain logo sampai kepada ilustrasi sampul kaset, desainer bak <em>superman</em> atau s<em>uperwoman</em>. Studio grafis tidak punya pilihan lain supaya bertahan hidup. Ilustrasi menggunakan teknik <em>air brush</em>, dengan gaya <em>hyper-realism</em> dan Pop Art menjadi <em>trend</em> waktu itu, sejalan dengan perkembangan ilustrasi di dunia maju (majalah “Tempo” dan “Zaman” adalah dua penerbitan yang mengakomodasi teknik ini untuk sampulnya). <em>Air brush gun</em>, pensil, kuas, <em>cutter</em>, Cow Gum, Spraymount dan huruf gosok Letraset/Mecanorma adalah alat-alat yang lazim bertengger di meja kerja desainer waktu itu.</p>
<p>Pertumbuhan usaha di bidang desain grafis serentak dengan perkembangan di bidang pendidikannya. Menyusul <a href="http://dgi-indonesia.com/%E2%80%9Csekolah-toekang-reklame%E2%80%9D-suatu-catatan-perjalanan-disain-komunikasi-visual-isi-yogyakarta/">STSRI “ASRI”</a> di Yogyakarta dan FSRD ITB di Bandung yang sudah ada terlebih dulu, pada tahun 1976 juga dibuka di LPKJ (Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta) dan kemudian di Universitas Trisakti pada tahun 1978.</p>
<p>Pameran IPGI ke-2 digelar pada tanggal 22-31 Agustus 1983 di Galeri Utama TIM, Jakarta dengan tajuk “<a href="http://dgi-indonesia.com/perancang-grafis-mahluk-kreatif-di-balik-layar/">Grafis ‘83</a>”. Ini adalah untuk pertama kalinya – setelah 15 tahun berdiri – Dewan Kesenian Jakarta dan TIM (Taman Ismail Marzuki) menyelenggarakan sebuah pameran seni terap, yang secara tidak langsung merupakan pengakuan resmi otoritas kesenian atas desain grafis sebagai seni. Sudarmadji, Ketua Dewan Pekerja Harian Dewan Kesenian Jakarta mengungkap bahwa “Kemasan pasta gigi atau sabun, jika isinya sudah diambil dan digunakan, maka kemasan (pembungkusnya) langsung begitu saja dibuang. Poster atau reklame yang terpampang di jalan, begitu tahu isinya, habis perkara. Jarang yang penghayatannya dilanjutkan dari aspek artistik dan estetisnya.” [4]</p>
<p>Selanjutnya bersama JAGDA (Japan Graphic Designer Association), IPGI pernah menyelenggarakan dua pameran besar, yaitu pada <a href="http://dgi-indonesia.com/pameran-desain-jepang-indonesia-jepang-agresif-indonesia-mengalah/">9-15 Februari 1988</a> di Galeri Ancol, Pasar Seni Ancol, Jakarta yang dilanjutkan di Aula Timur ITB, Jalan Ganesha 10, Bandung, dan pada tahun <a href="http://dgi-indonesia.com/wawancara-dengan-shigeo-fukuda-jagda-dalam-rangka-pameran-grafis-indonesia-jepang-grafis-89/">1989</a> berturut-turut di tiga kota: 23-30 Maret di Gedung Pameran Seni Rupa Depdikbud (sekarang Galeri Nasional) di jalan Merdeka Timur 14, Jakarta; 12-20 April di Yayasan Pusat Kebudayaan, jalan Naripan, Bandung dan 26 April-3 Mei di Kampus Institut Seni Indonesia (d/h STSRI “ASRI”) di jalan Gampingan, Yogya.</p>
<p>Selama perjalanannya, desainer yang aktif menggerakkan roda IPGI: Gauri Nasution, Hanny Kardinata (Bendahara), Karnadi Mardio (Wakil Ketua), Priyanto Sunarto, Sadjiroen, Syahrinur Prinka, Tjahjono Abdi, Wagiono Sunarto (Ketua), <a href="http://dgi-indonesia.com/prof-drs-yongky-safanayong/">Yongky Safanayong</a>.</p>
<p>Upaya menyejajarkan desain dengan cabang kesenirupaan yang lain, juga menjadi landasan kurasi “Jakarta Art &amp; Design Expo ‘92” atau “JADEX‘92” yang digelar di Jakarta Design Center tanggal 25-30 September 1992. Untuk pertama kalinya semua cabang seni rupa – seni lukis, seni patung, seni grafis, seni serat, seni keramik, instalasi, desain interior, desain grafis, desain produk, desain tekstil, desain busana, desain aksesori, kria kayu, kria keramik dan kria bambu – ‘dipersatukan’ dalam sebuah pameran besar. “Sejauh ini, pengkajian kemungkinan persentuhan itu – khususnya melalui sebuah pameran – belum dilakukan. Pameran-pameran yang diselenggarakan umumnya berkaitan dengan keutamaan masing-masing cabang seni rupa yang lalu lebih menunjukkan perbedaan. Pameran desain, mengutamakan aspek fungsi dan kaitannya dengan berbagai bidang usaha. Pameran lukisan, patung atau grafis, bila tak menekankan tujuan menjual, terlalu sibuk dengan apresiasi”. [5]</p>
<p><a href="http://dgi-indonesia.com/sejarah-ipgi-upaya-menumbuhkan-apresiasi/"><strong>IPGI ganti nama jadi ADGI (Asosiasi Desainer Grafis Indonesia)</strong></a></p>
<p>Pada tanggal 7 Mei 1994 IPGI menyelenggarakan kongres pertamanya di Jakarta Design Center dimana berlangsung penggantian nama organisasi menjadi <a href="http://dgi-indonesia.com/sejarah-adgi-indonesia-design-professionals-association-2006/">ADGI (Asosiasi Desainer Grafis Indonesia)</a>. Pada saat itu dilakukan juga serah terima jabatan dari pengurus IPGI ke pengurus ADGI (Ketua: Iwan Ramelan, Sekretaris: Irvan Noe’man), pemilihan President Elect (Gauri Nasution), pengesahan AD/ART dan kode etik serta pengesahan Majelis Desain Grafis. [6]</p>
<p>Seirama dengan pembangunan yang sedang berjalan dengan pesat pada periode 90an, profesi desainer grafis pun semakin dikenal, <em>demand</em> masyarakat juga meningkat, dan didorong oleh faktor teknologi yang semakin canggih dan memudahkan (komputerisasi terjadi di masa ini), terjadilah pertumbuhan jumlah perusahaan desain grafis, di antaranya di Jakarta: LeBoYe (<a href="http://dgi-indonesia.com/ignatius-hermawan-tanzil/">Hermawan Tanzil</a>), MakkiMakki (<a href="http://dgi-indonesia.com/sakti-makki-bsc/">Sakti Makki</a>), Afterhours (<a href="http://dgi-indonesia.com/lans-brahmantyo/">Lans Brahmantyo</a>), Avigra (Ardian Elkana), di Yogyakarta: Petakumpet (<a href="http://dgi-indonesia.com/m-arief-budiman-ssn/">M Arief Budiman</a>) dan di Bali: Matamera (<a href="http://dgi-indonesia.com/arief-ayip-budiman/">Arief “Ayip” Budiman</a>). Jenis pekerjaan hampir spesifik: <em>brand/corporate identity</em>, <em>annual report</em>, <em>company profile</em>, <em>marketing brochure</em>, <em>packaging</em>, <em>calendar</em>.</p>
<p><strong>22 Januari 1998: Kurs rupiah menembus 17.000,- per dolar AS.</strong></p>
<p>Setelah berpuluh-puluh tahun terbuai oleh pertumbuhan yang begitu mengagumkan, tahun 1998 ekonomi Indonesia mengalami kontraksi hebat. Krisis dengan cepat merambah ke semua sektor. Puluhan, bahkan ratusan perusahaan, mulai dari skala kecil hingga konglomerat, bertumbangan. Sekitar 70 persen lebih perusahaan yang tercatat di pasar modal juga <em>insolvent</em> atau nota bene bangkrut. Perusahaan-perusahaan desain grafis pun tidak luput dari hantaman krisis ini, satu per satu ditutup karena sebagian besar klien mereka berasal dari sektor-sektor yang paling terpukul: perbankan, konstruksi dan manufaktur. Hanya studio kecil dengan dua atau tiga orang staf saja yang bisa bertahan karena <em>overhead</em>-nya kecil, studio besar yang mampu bertahan pun dipaksa memangkas drastis jumlah stafnya.</p>
<p><strong>Forum Desainer Grafis Indonesia (FDGI) berdiri</strong></p>
<p>Di tengah kekosongan organisasi yang mewadahi profesi ini, pada awal tahun 2000 <a href="http://dgi-indonesia.com/profil-fdgi-forum-desain-grafis-indonesia/">Forum Desainer Grafis Indonesia (FDGI)</a> diwacanakan oleh 3 orang desainer yang juga pengajar desain grafis yaitu <a href="http://dgi-indonesia.com/hastjarjo-boedi-wibowo-ssn/">Hastjarjo B Wibowo</a>, <a href="http://dgi-indonesia.com/mendiola-budi-wiryawan-ssn/">Mendiola Budi Wiryawan</a> dan Arif PSA. FDGI diresmikan bersamaan dengan penyelenggaraan Pameran Poster “Melihat Indonesia Damai” tanggal 6-14 Juni 2003 di Bentara Budaya, Jakarta. Selanjutnya pada rapat kerja FDGI di Cibubur 11 Juli 2003 dihasilkan perubahan nama organisasi menjadi Forum Desain Grafis Indonesia (FDGI) dengan tujuan untuk menjangkau pemangku kepentingan di luar desainer grafis. Pada tanggal 7-11 September 2005 FDGI berhasil mengadakan pameran poster internasional &#8220;Light of Hope for Indonesia&#8221; di arena FGDexpo 2005.</p>
<p><strong>Transformasi ADGI menjadi Adgi (Indonesia Design Professionals Association)</strong></p>
<p>Pada tanggal 8 September 2005 dalam acara “Gathering and Talk Show-It’s Graphic Designers United!” di arena FGDexpo 2005, Jakarta Convention Center yang diselenggarakan oleh FDGI, diterbitkan Memorandum ADGI kepada Gauri Nasution, <a href="http://dgi-indonesia.com/danton-sihombing-mfa/">Danton Sihombing</a>, Hastjarjo B Wibowo dan Mendiola B Wiryawan untuk mempersiapkan Kongres ADGI dalam waktu 6 bulan. Pada bulan Oktober 2005 para penerima mandat membentuk Tim Revitalisasi ADGI sebanyak 16 orang yang bekerja selama 5 bulan untuk merumuskan <em>platform</em> “Adgi Baru”. Berdasarkan evaluasi terhadap kinerja ADGI pada masa lalu dirumuskanlah <em>branding platform</em> Adgi baru yang hadir dengan deskripsi Indonesia Design Professionals Association. Kata Adgi menjadi nama, bukan lagi akronim (ADGI).</p>
<p><strong>Kongres Nasional Adgi pertama</strong></p>
<p>Pada tanggal 19 April 2006 bertempat di Ballroom Hotel Le Meridien, Jakarta diselenggarakan Kongres Adgi dimana terpilih formasi presidium yang terdiri dari 5 orang yaitu Andi S Boediman, Danton Sihombing, Hastjarjo B Wibowo, Hermawan Tanzil dan Lans Brahmantyo untuk mengemban tugas memimpin Adgi selama periode 1 tahun dengan mengusung tema “Unifying Spirits”. Pada 16-30 Agustus 2006 presidium ini berhasil menyelenggarakan pameran “Petasan Grafis” di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta dengan sub-judul “Pameran Nasionalisme Indonesia dalam Desain Komunikasi Visual”.</p>
<p><strong>Kongres Nasional Adgi kedua</strong></p>
<p>Pada tanggal 19 April 2007 dilaksanakan Kongres Nasional Adgi kedua di gedung Galeri Nasional, Jakarta. Melalui mekanisme pemungutan suara, Danton Sihombing terpilih sebagai Ketua Umum Adgi 2007-2010. Kemudian bersamaan dengan diselenggarakannya FGDexpo 2007 pada 8-12 Agustus 2007 Adgi menggelar pameran poster international “One Globe One Flag”<strong> </strong>di Jakarta Convention Center.</p>
<p><strong>Dari Adgi kembali ke ADGI</strong></p>
<p>Pada tanggal 9 November 2007 Adgi menyelenggarakan “Adgi Jakarta Chapter-Member Recruitment and Gathering Night 2007 di Forbidden Citi, Jl. Wijaya I No. 55, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pada peristiwa ini disampaikan antara lain perubahan nama asosiasi dari Adgi-Indonesia Design Professionals Association menjadi ADGI (Asosiasi Desainer Grafis Indonesia), kembali ke nama yang disepakati pada Konggres IPGI ke I di Jakarta Design Center tanggal 7 Mei 1994.</p>
<p>Demikianlah gambaran singkat perjalanan IPGI hingga menjadi ADGI, kemudian dari ADGI menjadi Adgi dan akhirnya kembali menjadi ADGI. Sampai uraian ini selesai ditulis, ADGI telah melaksanakan fungsi nasionalnya lewat pemberdayaan <em>chapters</em> di seluruh Indonesia, yang saat ini terdiri dari Adgi-Jakarta-<em>chapter</em>, Surabaya-<em>chapter</em>, Bali-<em>chapter</em>, Yogyakarta-<em>chapter</em> dan Bandung-<em>chapter</em> (dalam pembentukan).</p>
<p><a href="http://dgi-indonesia.com/menuju-puncak-acara-panen-grafis-2009/"><strong>Ajang penghargaan desain grafis pertama berskala nasional di Indonesia</strong></a></p>
<p>Pada tanggal 4 Juli 2009 diadakan <a href="http://dgi-indonesia.com/dari-acara-press-conference-igda-2009-%E2%80%9Cmenanam-ide-ciptakan-karya-tuai-prestasi%E2%80%9D/">konferensi pers IGDA (Indonesian Graphic Design Award) 2009</a> di Galeri Foto Jurnalistik Antara, Jakarta yang sekaligus menandai dimulainya ajang penghargaan desain grafis pertama berskala nasional ini. IGDA diselenggarakan agar tercipta suatu standar bagi kualitas desain grafis Indonesia, yang setiap tahunnya dinyatakan kepada publik nasional dan internasional sehingga kelak eksistensi desain grafis Indonesia bisa diperhitungkan dalam lingkup global.</p>
<p><strong>Desain grafis Indonesia di jagat industri dunia</strong></p>
<p>Pertumbuhan selalu berawal dari riak kecil, berhimpun menjadi gelombang, dan gelombang lebih besar lagi yang akhirnya membentuk desain grafis Indonesia seperti sekarang ini. Desainer grafis Indonesia kini bisa dengan bangga menyatakan bahwa desain grafis Indonesia telah menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Hampir semua sektor membutuhkan sentuhan desainer grafis. Pendidikan desain grafis pun berada di puncak pertumbuhan seperti yang belum pernah dialami sebelumnya. Hingga sekarang <a href="http://dgi-indonesia.com/school-college/">sekitar 70an pendidikan tinggi DKV</a> telah dan segera berdiri di Medan, Palembang, Jakarta, Bandung, Cirebon, Semarang, Yogyakarta, Salatiga, Solo, Malang, Surabaya, Bali, Makassar dan menyusul di beberapa kota lainnya. [7]</p>
<p>Desain grafis Indonesia kini juga telah memiliki dua media cetak: Concept (2004) dan Versus (2008), serta forum maya <a href="http://dgi-indonesia.com/situs-desain-grafis-indonesia-dgi-catatan-perjalanannya/">DGI (Desain Grafis Indonesia)</a> pada alamat <a href="http://www.desaingrafisindonesia.co.cc/">www.desaingrafisindonesia.co.cc</a> (sekarang: <a href="http://dgi-indonesia.com">DGI-Indonesia.com</a>) yang diluncurkan pada Maret 2007, juga Jurnal Grafisosial (2007) di <a href="http://grafisosial.wordpress.com">http://grafisosial.wordpress.com</a>. Situs DGI adalah embrio dari Museum (<em>to be</em>) DGI yang akan dibangun di Chandari, Ciganjur, Jakarta Selatan.</p>
<p>Stabilitas ekonomi yang terjaga paska krisis, telah menumbuhkan jumlah perusahaan desain grafis di berbagai daerah. Di Jakarta saja untuk menyebut beberapa di antaranya: Inkara Design (<a href="http://dgi-indonesia.com/danton-sihombing-mfa/">Danton Sihombing</a>, Ilma Noe’man), DesignLab (<a href="http://dgi-indonesia.com/divina-natalia/">Divina Natalia</a>), Whitespace Design (<a href="http://dgi-indonesia.com/irvan-n-suryanto/">Irvan N Suryanto</a>), Kineto (<a href="http://dgi-indonesia.com/djoko-hartanto/">Djoko Hartanto</a>), Octovate (Bernhard Subiakto), Banana Inc. (<a href="http://dgi-indonesia.com/nigel-sielegar/">Nico A Pranoto</a>), Jerry Aurum Design (<a href="http://dgi-indonesia.com/jerry-aurum/">Jerry Aurum</a>), Mendiola Design Associates (<a href="http://dgi-indonesia.com/mendiola-budi-wiryawan-ssn/">Mendiola B Wiryawan</a>), Roundbox (Bima Shaw), Nubrain Design (Ato Hertianto), Fresh Creative (Imelda Dewajani), AhmettSalina (<a href="http://dgi-indonesia.com/irwan-ahmett/">Irwan Ahmett</a>), Crayon Design (Melvi Samodro), Halfnot Indesign (Heri Mulyadi), Thinking*Room (<a href="http://dgi-indonesia.com/eric-widjaja-2/">Eric Wijaya</a>), Lumiére (<a href="http://dgi-indonesia.com/ismiaji-cahyono/">Ismiaji Cahyono</a>), Paprieka (<a href="http://dgi-indonesia.com/eka-sofyan-rizal/">Eka Sofyan</a>), Songo (<a href="http://dgi-indonesia.com/hastjarjo-boedi-wibowo-ssn/">Hastjarjo B Wibowo</a>, Hagung Sihag, Arif PSA), Neuborn (Vera Tarjono) dan masih banyak lagi.</p>
<p>Tidak sedikit pula desainer-desainer muda Indonesia berkarya dan sukses di luar negeri: <a href="http://dgi-indonesia.com/henricus-kusbiantoro-mfa/">Henricus Kusbiantoro</a> (Senior Art Director-Landor Associates, San Francisco), <a href="http://dgi-indonesia.com/lucia-c-dambies-ms/">Lucia C Dambies</a> (Head Designer-Wharton Bradley Mack, Newcastle), <a href="http://dgi-indonesia.com/john-kudos/">John Kudos</a> (Principal-Studio Kudos, Chelsea), Melissa Sunjaya (Principal-Bluelounge Design, Pasadena), Kalim Winata (Computer-Generated Images Artist-ImageMovers Digital, San Francisco), <a href="http://dgi-indonesia.com/yolanda-santosa/">Yolanda Santosa</a> (Principal-Ferroconcrete, Los Angeles) dan <a href="http://dgi-indonesia.com/bambang-widodo/">Bambang Widodo</a> (Principal-BWDesign, New Jersey) adalah beberapa di antaranya.</p>
<p>Uraian pendek ini saya tutup dengan mengutip puisi indah <a href="http://dgi-indonesia.com/m-arief-budiman-ssn/">M Arief Budiman</a> ketika meluncurkan ADGI Yogyakarta Chapter pada 19 Juni 2008: “Langkah besar itu telah dimulai dengan satu lilin kecil yang menyala kedip-kedip dalam hembus angin malam. Tapi nyala lilin itu menular, terus menular dan memenuhi kota. Merembet menembus batas-batas dan menerangi gelap sebuah negara. Lalu menyeberang laut dan menerangi dunia kecil kita ini.“ [8]</p>
<p>Hanny Kardinata, Jakarta, Juli 2009</p>
<p><strong>Catatan kaki:</strong></p>
<p>[1] Dermawan T, Agus, <em>&#8220;In Memoriam&#8221; Fadjar Sidik (1930-2004) – Tenggelamnya Matahari Seni Rupa Modern</em>, Kompas Cyber Media (KCM), Minggu, 25 Januari, 2004.</p>
<p>[2] Dermawan T, Agus, <em>Pameran Rancangan Grafis Hanny, Gauri, Didit – Mau Merubah Dunia</em>, Kompas, 25 Juni 1980, hal. 6.</p>
<p>[3] Leonardo, <em>Pameran Grafis ‘80 – Karcis Parkir, Uang Kertas sampai Karung Semen</em>, Gadis no. 29, hal. 62, 1980.</p>
<p>[4] Sudarmadji, <em>Sambutan</em>, Katalog Pameran Grafis ‘83, hal. 2, 1983.</p>
<p>[5] Supangkat, Jim, <em>Kembali ke Satu Seni Rupa</em>, Katalog Pameran Jadex ‘92, hal. 18, 1992.</p>
<p>[6] Kardinata, Hanny, <em>Sejarah IPGI – Upaya Menumbuhkan Apresiasi</em>, Majalah Desain Grafis Concept, Volume 03 Edisi 13, hal. 60-63, 2006.</p>
<p>[7] Wibowo, Hastjarjo B, <em>Mengkritisi Pendidikan DKV di Indonesia</em>, Majalah Desain Grafis Versus Edisi 3, hal. 14, 2009.</p>
<p>[8] Budiman, M Arief, <em>Api Kreatif di Launching ADGI Jogja</em>, 2008.</p>
<p>*<em> Artikel ini ditulis atas permintaan Adgi (Asosiasi Desainer Grafis Indonesia) sebagai bagian dari buku Adgi yang akan diterbitkan berdasarkan TOR Penerbitan Buku Adgi per tanggal 23 Juni 2008 dengan subyek: Catatan perjalanan industri desain grafis di Indonesia dan munculnya IPGI hingga Adgi. Bekerjasama dengan majalah desain grafis Concept, buku tersebut direncanakan terbit pada tahun 2009. Buku tersebut akhirnya tidak pernah diterbitkan.<br />
</em><br />
•••</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hannykardinata.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hannykardinata.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hannykardinata.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hannykardinata.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hannykardinata.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hannykardinata.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hannykardinata.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hannykardinata.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hannykardinata.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hannykardinata.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hannykardinata.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hannykardinata.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hannykardinata.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hannykardinata.wordpress.com/117/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hannykardinata.wordpress.com&amp;blog=848682&amp;post=117&amp;subd=hannykardinata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hannykardinata.wordpress.com/2010/11/09/riak-riak-desain-grafis-indonesia-1970-sekarang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ec48f37e3142c8d4ac349568b3ffe183?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hannykardinata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wawancara dengan Majalah Desain Versus: &#8220;Garuda Pancasila dan Indonesian Creative Heroes&#8221;</title>
		<link>http://hannykardinata.wordpress.com/2010/08/06/wawancara-dengan-majalah-desain-versus-garuda-pancasila-dan-indonesian-creative-heroes/</link>
		<comments>http://hannykardinata.wordpress.com/2010/08/06/wawancara-dengan-majalah-desain-versus-garuda-pancasila-dan-indonesian-creative-heroes/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Aug 2010 09:27:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hannykardinata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Consciousness]]></category>
		<category><![CDATA[2010]]></category>
		<category><![CDATA[Garuda Pancasila]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesian Creative Heroes]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hannykardinata.wordpress.com/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[Wawancara dengan majalah desain Versus Sudilah kiranya Pak Hanny menyumbang pemikiran atas pertanyaan-pertanyaan berikut: 1. Tentang GARUDA PANCASILA: a. Apa definisi Garuda Pancasila di dalam hati Anda? Bagi generasi seusia saya mungkin sulit menghapus kesan &#8216;kesaktian&#8217; Pancasila sebagaimana yang telah dicuciotakkan selama 32 tahun masa pemerintahan Orde Baru, tetapi itulah yang semestinya diupayakan, bahwa Pancasila [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hannykardinata.wordpress.com&amp;blog=848682&amp;post=62&amp;subd=hannykardinata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Wawancara dengan majalah desain Versus</strong></p>
<p>Sudilah kiranya Pak Hanny menyumbang pemikiran atas pertanyaan-pertanyaan berikut:</p>
<p><strong>1. Tentang GARUDA PANCASILA:</strong></p>
<p><strong>a. Apa definisi Garuda Pancasila di dalam hati Anda?</strong></p>
<p>Bagi generasi seusia saya mungkin sulit menghapus kesan &#8216;kesaktian&#8217; Pancasila sebagaimana yang telah dicuciotakkan selama 32 tahun masa pemerintahan Orde Baru, tetapi itulah yang semestinya diupayakan, bahwa Pancasila adalah inspirasi, dan bukan sesuatu yang sakti, keramat dan doktrinal.</p>
<p><strong>b. Sejujurnya, hapalkah Anda dengan lagunya?</strong></p>
<p>Sejujurnya, tidak ada satu pun lirik lagu apa pun yang saya hafal lagi sepenuhnya saat ini.</p>
<p>Dan menghafal lirik sebuah lagu nasional tidak sama dengan menjadi nasionalis.</p>
<p><strong>c. Apakah menurut Anda, Garuda Pancasila sudah bisa dianggap sebagai Logo Indonesia?</strong></p>
<p>Kalau ya, mengapa? Kalau tidak, mengapa?</p>
<p>Sebagai logo, makna yang diusungnya sudah bagus: &#8220;burung garuda&#8221; memiliki arti kekuatan, menggambarkan Indonesia negara yang kuat. Masalahnya apakah makna ini masih mencerminkan kondisi bangsa dan negara kita saat ini?</p>
<p><strong>d. Masih adakah yang ingin Anda ubah dari Garuda Pancasila? Mengapa? Dan seperti apa perubahan yang ingin Anda lakukan?</strong></p>
<p>Visualnya boleh &#8216;diremajakan&#8217;, untuk meraih simpati (dan kemudian: empati) dari generasi muda, seperti yang banyak dilakukan terhadap logo perusahaan-perusahaan negara (BUMN) mau pun swasta.</p>
<p><strong>e. Bagaimana tanggapan Anda saat Armani Exchange menggunakan Garuda Pancasila sbg motif t-shirt-nya, dan mengubah bbrp lambang menjadi huruf AIX ?</strong></p>
<p>Dalam kaitannya dengan HKI, sebuah logo tidak bisa dipergunakan apalagi dimodifikasi oleh yang tidak berhak (bukan pemegang hak cipta atau hak mereknya), kecuali ada perjanjian lain dengan penciptanya.</p>
<p><strong>f. Menurut Anda, bolehkah tampilan Garuda Pancasila di eksplor untuk kepentingan Seni ataupun Komersil? Mengapa?</strong></p>
<p>Bila logo anda atau logo institusi anda dipergunakan oleh pihak lain, apalagi untuk kepentingan komersial, apakah anda rela?</p>
<p><strong>g. Pernahkan Anda menemukan eksplorasi desain lain dari GARUDA PANCASILA? Dimana? Oleh siapa? Ceritakan apa yg ada dlm pikiran Anda saat melihat desain tsb.</strong></p>
<ul>
<li> Adityayoga (Indonesia Raya): &#8220;I love (Garuda Pancasila) RI&#8221;.</li>
<li> Iwan dan Indah Esjepe (Indonesia Berindak): burung garudanya tidak digambarkan statis, tapi terbang dengan perisai Pancasila menggantung di leher dan kaki menggenggam erat-erat banner Bhinneka Tunggal Ika. Keduanya mencitrakan: &#8220;proud to be Indonesian&#8221;.</li>
</ul>
<p><strong>2. Siapa sebenarnya yg bisa disebut sebagai orang Indonesia? Yang terlahir sebagai Melayu kah? Atau? Berikan pandangan Anda&#8230;</strong></p>
<p>Kita bisa berdebat kusir mengenai hal ini, tapi apa manfaatnya? Manusia Indonesia adalah warga negara Indonesia, itu saja.</p>
<p><strong>3. Siapa saja yang menurut Anda sudah bisa dijuluki sebagai INDONESIA CREATIVE HEROES? Sebutkan nama, profesi dan apa saja yg sudah dilakukan oleh orang-orang yang Anda nilai sbg hero tsb.</strong></p>
<p>Terlepas dari kontroversi mengenai ideologinya: Pramoedya Ananta Toer, karena:</p>
<ul>
<li>Keterlibatannya sebagai pejuang kemerdekaan pada zaman penjajahan Belanda.</li>
<li>Pembelaannya terhadap nasib kaum Tionghoa di Indonesia dalam bukunya &#8220;Hoa Kiau di Indonesia&#8221;.</li>
<li>Pramoedya adalah satu-satunya penulis Indonesia yang pernah berkali-kali dinominasikan sebagai peraih penghargaan Nobel Sastra.</li>
<li>Reputasi internasionalnya sulit ditandingi oleh insan kreatif Indonesia lainnya. Dia telah menulis sekitar 200 buku dan karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam 36 bahasa.</li>
<li>Ia pernah menolak sutradara Amerika, Oliver Stone yang ingin membeli hak memfilmkan &#8220;Bumi Manusia&#8221; sebesar US$ 1,5 juta (sekitar 15 miliar rupiah) hanya karena Pram menginginkan orang Indonesia yang menjadi produsernya.</li>
<li>Walau berkali-kali di penjara (dalam tiga periode: zaman Belanda, Orde Lama dan Orde Baru) dan tidak dihargai di negerinya sendiri, Pram tetap mencintai Indonesia. Pada usia 81 tahun ia menderita sakit karena sedih mendengar berita berbagai bencana yang menimpa negerinya.</li>
<li>Dan ketika kesehatan membuatnya tak dapat menulis lagi, kegiatannya dialihkan pada mengumpulkan kliping hingga setinggi 4 meter untuk proyek Ensiklopedia Nusantara. Proyek itu rencananya akan mulai dikerjakan dengan uang yang akan diterimanya jika ia menerima penghargaan Nobel.</li>
</ul>
<p><strong>4. Bagaimana dengan Bhinneka Tunggal Ika?</strong></p>
<p>Tiap sila di dalam Pancasila tidak bisa mutlak berdiri sendiri-sendiri, semestinya ditafsirkan secara kreatif dalam kaitannya dengan sila-sila lainnya.</p>
<p>Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu, merujuk ke sila ke-3: kesatuan bangsa, atau nasionalisme. Sila ini tidak bisa dijalankan tanpa mengindahkan nilai humanisme (sila ke-2). Jadi di atas nasionalisme, kita masih memiliki nilai-nilai perikemanusiaan. Ini menghindarkan kita dari menafsirkan nasionalisme secara sempit (misalnya, boleh melakukan kekerasan atas nama nasionalisme).</p>
<p>Dan di atas semua sila itu ada nilai spirituality (sila ke-1).</p>
<p>Jadi penafsiran sebuah sila harus memperhitungkan keterkaitannya dengan sila-sila lainnya.</p>
<p>Jakarta, 29 Juni 2010</p>
<p>•••</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hannykardinata.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hannykardinata.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hannykardinata.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hannykardinata.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hannykardinata.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hannykardinata.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hannykardinata.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hannykardinata.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hannykardinata.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hannykardinata.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hannykardinata.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hannykardinata.wordpress.com/62/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hannykardinata.wordpress.com/62/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hannykardinata.wordpress.com/62/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hannykardinata.wordpress.com&amp;blog=848682&amp;post=62&amp;subd=hannykardinata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hannykardinata.wordpress.com/2010/08/06/wawancara-dengan-majalah-desain-versus-garuda-pancasila-dan-indonesian-creative-heroes/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ec48f37e3142c8d4ac349568b3ffe183?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hannykardinata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Design Social Responsibility: Ethical Discourse in Visual Communication Design Practice</title>
		<link>http://hannykardinata.wordpress.com/2010/07/21/design-social-responsibility-ethical-discourse-in-visual-communication-design-practice/</link>
		<comments>http://hannykardinata.wordpress.com/2010/07/21/design-social-responsibility-ethical-discourse-in-visual-communication-design-practice/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jul 2010 08:31:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hannykardinata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Design]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hannykardinata.wordpress.com/?p=59</guid>
		<description><![CDATA[Berikut adalah wawancara antara Cynthia Mononutu (CM) seorang mahasiswa program master The Hong Kong Polytechnic University dengan saya (HK) yang dipergunakannya sebagai materi thesisnya &#8220;Design Social Responsibility: Ethical Discourse in Visual Communication Design Practice&#8221;. Monday, 2 March 2009 CM: As a designer, how do you measure success? HK: The definition of success is often ambiguous: [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hannykardinata.wordpress.com&amp;blog=848682&amp;post=59&amp;subd=hannykardinata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Berikut adalah wawancara antara <a href="http://dgi-indonesia.com/cynthia-mononutu/">Cynthia Mononutu</a> (CM) seorang mahasiswa program master The Hong Kong Polytechnic University dengan saya (HK) yang dipergunakannya sebagai materi thesisnya <a href="http://dgi-indonesia.com/design-social-responsibility-ethical-discourse-in-visual-communication-design-practice/">&#8220;Design Social Responsibility: Ethical Discourse in Visual Communication Design Practice&#8221;</a>.</p>
<p>Monday, 2 March 2009</p>
<p>CM: As a designer, how do you measure success?</p>
<p>HK: The definition of success is often ambiguous: morally or financially. I tend to choose the first word as my definition for success, even though we also have to consider the second one. Idealism is more likely to be practiced by those who are economically sufficient, despite many examples that states otherwise.</p>
<p>CM: What does ethical means to you?</p>
<p>HK: Honesty in utterance</p>
<p>CM: How do you see the role of designers in social responsibility?</p>
<p>HK: A Graphic designer cannot be separated from the social dynamics that occur around him. For example, when a designer sees the earth is destructed by global warming, he has to do something. Each designer will find his own way to involve in reducing this green house effect.</p>
<p>CM: Being responsible to whom: client, consumer, environment, culture etc?</p>
<p>HK: All of them.</p>
<p>CM: Do you see any differences on being ethical towards the different end users/clients as mentioned in the previous question?</p>
<p>HK: The first consideration is financial condition. When designers are prosperous, they have bargaining power and also have the option to select clients. For Example, These designers can reject any projects from a cigarette company. This is a process towards a better attitude.</p>
<p>CM: Why do designers need to take the responsibility?</p>
<p>HK: In a narrow understanding, designers were influenced by graphic design; therefore he is responsible for purifying it. In a broader understanding, this point of view applies to their environments, countries, etc.</p>
<p>CM: How do you see the issue of being ‘ethical’ in visual communication in general and your design practice in particular?</p>
<p>HK: Honesty lies in one’s inner self. When you cheat, you insult your own inner self. Lying to the public is similar to ’suicide.’</p>
<p>CM: How do you see the role of a designer in this context of being ‘ethical’?</p>
<p>HK: Being ethical is an absolute obligation for designers, be it to fellow designers or to the society.</p>
<p>CM: When we talk about designers’ responsibility to society, culture, environment etc, how do you manage to balance your professional practice and good responsible work?</p>
<p>HK: I founded DGI (Graphic Design Indonesia) community through http://www.desaingrafisindonesia.co.cc. This community will be a public space for Indonesian graphic designers. I founded DGI because, at first, I want to distribute newspaper articles that I keep since 1970s. I wish these articles can be a note in the history of Indonesian graphic design. On this site, I invite Indonesian graphic designer figures to share their visual and written works. Some DGI history can be read on http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/2008/12/16/situsdesain-grafis-indonesia-dgi-catatan-perjalanannya/</p>
<p>CM: Should design be seen as a good business or just being good (ethical and responsible)?</p>
<p>HK: We can’t choose one. Both have to be performed in a well-balanced manner.</p>
<p>CM: How these affect the end user in particularly the ‘client’? Is it good for their business?</p>
<p>HK: Sometimes designers face difficult situation. I also had this dilemma when I was an advertising designer and had to work in a team. But as a graphic designer, the frequency of this argumentation gets lower. Below-the-line jobs are more subtle, not as hard as most of the advertising design job.</p>
<p>CM: How should designers apply these principles of being responsible and ethical into their own design practices?</p>
<p>HK: Never compromise any public lies proposed by the clients</p>
<p>CM: Should ‘designer’ be a profession, similar with doctors, lawyer etc?</p>
<p>HK: Of course</p>
<p>CM: How do you see the role of designers in the society and how designers’ social responsibility is changing and develop over the recent years?</p>
<p>HK: There is a significant increase in the social awareness of designers all around the world. This is good.</p>
<p>CM: Visual communication is about generating ideas, concept and creating good visuals, advertisement etc. Realistically speaking, how much can design/designers actually change the world?</p>
<p>HK: Basically, visual communication design creates ideas, concepts, and interesting visuals, advertisements, etc. In fact, how far can a designer influence the world?</p>
<p>Design is able to do something, if not, why should we bother to learn it? But sometimes a product of visual communication design doesn’t stand alone. Inside this product there are many disciplines, such as copywriting. The success of an advertisement can’t be measured only by the design. An advertisement, wholly, can direct a person to choose product A, not product B.</p>
<p>I remember the “Watermarks Project,” a public art project that recently was presented to the citizens of Bristol. A series of moving letters is projected to the wall of a high-rise building in Bristol city centre. These letters are shown in the same height that possibly can occur when Greenland’s ice melts because of global warming (official data source of Bristol government). For me, this conceptual design will influence people, at least it can be a reflection for Bristol citizens. Visit http://watermarksproject.org/</p>
<p>•••</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hannykardinata.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hannykardinata.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hannykardinata.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hannykardinata.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hannykardinata.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hannykardinata.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hannykardinata.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hannykardinata.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hannykardinata.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hannykardinata.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hannykardinata.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hannykardinata.wordpress.com/59/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hannykardinata.wordpress.com/59/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hannykardinata.wordpress.com/59/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hannykardinata.wordpress.com&amp;blog=848682&amp;post=59&amp;subd=hannykardinata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hannykardinata.wordpress.com/2010/07/21/design-social-responsibility-ethical-discourse-in-visual-communication-design-practice/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ec48f37e3142c8d4ac349568b3ffe183?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hannykardinata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wawancara dengan Andrea Booth/The Jakarta Post</title>
		<link>http://hannykardinata.wordpress.com/2010/05/15/wawancara-dengan-andrea-booththe-jakarta-post/</link>
		<comments>http://hannykardinata.wordpress.com/2010/05/15/wawancara-dengan-andrea-booththe-jakarta-post/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 May 2010 00:00:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hannykardinata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Design]]></category>
		<category><![CDATA[2010]]></category>
		<category><![CDATA[Andrea Booth]]></category>
		<category><![CDATA[Hanny Kardinata]]></category>
		<category><![CDATA[The Jakarta Post]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hannykardinata.wordpress.com/?p=101</guid>
		<description><![CDATA[Mengenai IGDA (Indonesian Graphic Design Award) 2009: 1.How can the graphic design industry benefit from this event? Secara nasional, IGDA diharapkan akan menjadi tolok-ukur (benchmark) bagi kualitas desain grafis Indonesia pada suatu periode, dan melalui penyelenggaraan yang baik serta teratur (sustained) kelak bisa mengangkat desain grafis Indonesia menjadi salah satu kekuatan yang diperhitungkan di dunia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hannykardinata.wordpress.com&amp;blog=848682&amp;post=101&amp;subd=hannykardinata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Mengenai IGDA (Indonesian Graphic Design Award) 2009:</strong></p>
<p><em><strong>    1.How can the graphic design industry benefit from this event?</strong></em></p>
<p>Secara nasional, <a href="http://www.igda.web.id/about-igda/">IGDA</a> diharapkan akan menjadi tolok-ukur (<em>benchmark</em>) bagi kualitas desain grafis Indonesia pada suatu periode, dan melalui penyelenggaraan yang baik serta teratur (<em>sustained</em>) kelak bisa mengangkat desain grafis Indonesia menjadi salah satu kekuatan yang diperhitungkan di dunia internasional. Pada umumnya ajang penghargaan desain di dunia internasional sekedar fokus melayani kebutuhan, <em>output</em> <em>trend</em> industri dan komoditi. IGDA, lebih dari sekedar ajang penghargaan dan kompetisi pada umumnya, sesungguhnya menjadi cermin para petani desain untuk berintrospeksi kembali membumi, memberi kehidupan kembali kepada desain lokal.</p>
<p>Sejalan dengan IGDA sedang dirancang sebuah <a href="http://dgi-indonesia.com/museum-dgi-desa-kreatif-chandari/">Museum Desain Grafis Indonesia (MDGI)</a> yang selain akan menjadi tempat menyimpan dan merawat artefak desain grafis sebagai kekayaan budaya Indonesia – termasuk karya-karya IGDA ini – diharapkan kelak juga akan berfungsi sebagai pusat studi dan pengembangan desain grafis Indonesia. Kedua organisasi ini, IGDA dan MDGI – bersama dengan asosiasi, forum, lembaga pendidikan dan industri terkait – diharapkan kelak akan bersinergi untuk bersama-sama mewujudkan desain grafis Indonesia yang lebih bermartabat, di negeri sendiri mau pun global.</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><em><strong>    2.How would you define the identity of Indonesian graphic design?</strong></em></p>
<p>Desain grafis Indonesia tentunya bukanlah sekedar yang menampilkan motif-motif lokal sebagai elemen grafisnya, juga bukan desain yang berkarakter internasional, tetapi desain yang mencerminkan semangat untuk mengeksplorasi nilai-nilai lokal atau yang mengadaptasikan secara organik pengaruh luar dengan warisan lokal.</p>
<p>IGDA menyatakan keberpihakannya kepada semangat pencarian identitas desain grafis Indonesia ini melalui metafora-metafora yang dipergunakannya seperti &#8216;petani desain&#8217;, &#8216;panen grafis&#8217; dan sebagainya, identitas yang lahir sebagai hasil dialog yang natural dan bukan sekedar cangkokan yang bersifat paksaan, jauh dari adaptasi transformasi organik. Terbukti, yang mampu bertahan dari serbuan pasar global adalah petani desain yang mampu menghidupkan kembali inti-inti kebudayaan lama sebagai basis desain lokal seperti halnya bangsa-bangsa Jepang, Cina, atau pun Thailand.</p>
<p>Keberpihakan IGDA ini, jika tidak ada aral melintang, akan dinyatakan melalui sebuah <a href="http://dgi-indonesia.com/sikap-budaya/">manifesto</a> yang akan diumumkan pada malam penganugerahan IGDA pada tanggal 23 Mei 2010 di Galeri Salihara. Sebelumnya, <a href="http://dgi-indonesia.com/samartharupa-jejak-terima-kasih-dkv-binus/">AD Pirous</a> -salah seorang yang memberi andil besar bagi dimulainya pendidikan tinggi desain grafis di Indonesia- akan menyampaikan <a href="http://dgi-indonesia.com/sikap-budaya/">pidato kebudayaan</a>nya berkaitan dengan kesadaran mewujudkan desain grafis Indonesia ini.</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><em><strong>    3. Do people understand what graphic design is here?</strong></em></p>
<p>Sekitar 30 atau 40 tahun yang lalu, masyarakat awam masih sulit memahami apa sebetulnya yang dikerjakan oleh desainer grafis itu. Lulusan SMA yang ditanya akan melanjutkan studinya kemana bisa dipastikan hampir tidak ada yang menjawab akan bersekolah di sekolah desain grafis (jumlah sekolahnya pun masih bisa dihitung dengan jari sebelah tangan). Tetapi keadaan sudah berubah, studi desain grafis menjadi salah satu prioritas, dan jumlah jurusan DKV di seluruh Indonesia kabarnya saat ini sudah mencapai sekitar 70 buah.</p>
<p>Kini permasalahannya mungkin sudah agak bergeser, bukan lagi bagaimana mensosialisasikan mengenai apa desain grafis itu tapi pada bagaimana karya desain grafis yang baik dan berkualitas (karena teknologi digital saat ini memungkinkan siapapun menyatakan dirinya sebagai desainer grafis, sementara sertifikasi yang mengatur standard profesi ini masih sedang dalam proses pemberdayaannya).</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><em><strong>    4.  How do you think graphic design can be developed/advanced further?</strong></em></p>
<p>Desainer grafis tidak cukup hanya bekerja merancang dan memperoleh nafkah daripadanya, perlu ada kesadaran untuk terus-menerus mengeksplorasi warisan budayanya demi kepentingan mewujudkan desain grafis yang Indonesia. Hanya dengan cara demikian desain grafis Indonesia akan berkembang dan diperhitungkan dalam percaturan desain grafis dunia.</p>
<p>Perkembangan desain grafis Indonesia sebaiknya juga tidak lepas dari perkembangan industri kreatif pada umumnya. Perlu ada persinggungan yang lebih intensif dengan disiplin desain lainnya (arsitektur, interior, produk) atau dengan seni rupa lainnya. Persinggungan dari berbagai disiplin ini berpotensi menghasilkan perubahan atau sesuatu yang baru.</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><em><strong>    5. Can you explain why graphic design plays an important role in society?</strong></em></p>
<p>Pastilah cukup sulit pada saat ini untuk membayangkan dimana desain grafis tidak berperan. Ketika kami mendirikan <a href="http://dgi-indonesia.com/sejarah-ipgi-upaya-menumbuhkan-apresiasi/">IPGI (Ikatan Perancang Grafis Indonesia)</a> pada tahun 1980, kami tak henti-hentinya berupaya menyadarkan publik mengenai peran desain grafis yang bisa dijumpai hampir di setiap hal di sekitar kita, sejak dari kartu nama atau uang kertas dan kartu kredit di saku kita, <em>t-shirt</em> yang kita kenakan hingga kepada poster, banner atau billboard yang kita jumpai di jalan-jalan yang kita lalui.</p>
<p>Tetapi desain grafis tidak hanya berkonteks komersial semata, desainer tidak hanya melayani industri, atau mengabdi pada pemilik kapital, ada hal-hal lain yang lebih bernilai daripada itu seperti perannya di bidang sosial, pendidikan dan kebudayaan. Atau demi kepentingan nasional, bahkan kepentingan dunia. Desain bisa melakukan perubahan, bukan sekedar meningkatkan penjualan atau mendorong perilaku konsumtif.</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><em><strong>    6. What work can we expect to be showcased at the event? (designers and their backgrounds/influences/styles etc)</strong></em></p>
<p><a href="http://dgi-indonesia.com/onlinexhibition/igda/">Karya-karya finalis IGDA</a> yang ditampilkan dalam sebuah pameran sejak pagi hari pada tanggal 23 Mei itu memperlihatkan beragam pendekatan yang dilakukan oleh desainernya. Untuk ajang yang pertama ini terlalu cepat untuk mengharapkan teridentifikasinya sebuah gaya yang katakanlah, beridentitas Indonesia, tetapi gagasan inilah yang sesungguhnya melatarbelakangi diselenggarakannya IGDA. Tujuan ini mungkin baru akan tercapai setelah IGDA yang kesekian kali, tidak apa, setidaknya sejak ajang yang pertama ini, IGDA telah menunjukkan keberpihakannya kepada desain grafis yang Indonesia itu.</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><em><strong>    7. Is there anything else you want to add?</strong></em></p>
<p>Saya hanya ingin mengulang seruan kepada seluruh rekan-rekan seprofesi –praktisi dan akademisi di seluruh tanah air– agar melupakan perbedaan dan persaingan, melepaskan atribut organisasi atau institusinya masing-masing, untuk bekerjasama demi kepentingan yang lebih besar –antara lain melalui IGDA ini– demi kemajuan desain grafis Indonesia. Melupakan persaingan, karena menurut Rhenald Kasali, persaingan adalah akar dari konflik. Dan konflik hanya akan mendatangkan kerugian saja bagi bangsa ini!</p>
<p>•••</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hannykardinata.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hannykardinata.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hannykardinata.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hannykardinata.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hannykardinata.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hannykardinata.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hannykardinata.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hannykardinata.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hannykardinata.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hannykardinata.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hannykardinata.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hannykardinata.wordpress.com/101/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hannykardinata.wordpress.com/101/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hannykardinata.wordpress.com/101/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hannykardinata.wordpress.com&amp;blog=848682&amp;post=101&amp;subd=hannykardinata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hannykardinata.wordpress.com/2010/05/15/wawancara-dengan-andrea-booththe-jakarta-post/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ec48f37e3142c8d4ac349568b3ffe183?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hannykardinata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wawancara dengan Sign Magazine*</title>
		<link>http://hannykardinata.wordpress.com/2009/11/04/wawancara-dengan-sign-magazine/</link>
		<comments>http://hannykardinata.wordpress.com/2009/11/04/wawancara-dengan-sign-magazine/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 02:50:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hannykardinata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Design]]></category>
		<category><![CDATA[2009]]></category>
		<category><![CDATA[Sign Magazine]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hannykardinata.wordpress.com/?p=137</guid>
		<description><![CDATA[1. Salam hangat dari kami, apa kabar oom Han? Saya baik saja, terima kasih. Semoga demikian juga dengan seluruh pengurus Sign Magz. 2. Apa kegiatan anda saat ini? Pertama, setiap hari saya mengelola situs DGI/Desain Grafis Indonesia (www.desaingrafisindonesia.co.cc), meng-update isinya dan memoderatori komentar-komentar yang masuk. Fyi, pada ulang tahunnya yang ke-3 bulan Maret 2010 mudah-mudahan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hannykardinata.wordpress.com&amp;blog=848682&amp;post=137&amp;subd=hannykardinata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2009/11/signmagz-4.jpg"><img src="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2009/11/signmagz-4.jpg?w=600&#038;h=400" alt="" title="signmagz 4" width="600" height="400" class="alignnone size-full wp-image-144" /></a></p>
<p><strong>1. Salam hangat dari kami, apa kabar oom Han? </strong></p>
<p>Saya baik saja, terima kasih. Semoga demikian juga dengan seluruh pengurus Sign Magz.</p>
<p><strong>2. Apa kegiatan anda saat ini?</strong> </p>
<p>Pertama, setiap hari saya mengelola situs DGI/Desain Grafis Indonesia (<a href="http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/">www.desaingrafisindonesia.co.cc</a>), meng-update isinya dan memoderatori komentar-komentar yang masuk. Fyi, pada ulang tahunnya yang ke-3 bulan Maret 2010 mudah-mudahan DGI bisa hadir dengan manajemen dan penampilan barunya (<a href="http://dgi-indonesia.com/">www.DGI-Indonesia.com</a>). DGI saat ini juga sedang mempersiapkan penyelenggaraan IGDA (Indonesian Graphic Design Award) yang pertama, yang mudah-mudahan bisa terselenggara tahun depan. Kalau ini bisa terselenggara dengan baik, kami akan mengumpulkan sejumlah karya berkualitas sebagai koleksi awal MDGI (Museum Desain Grafis Indonesia) yang sedang kami rintis pendiriannya. Selain itu, saya juga membantu pengembangan Songo Creative Partnership yang belum lama ini kami dirikan berlokasi di Chandari, dimana MDGI akan didirikan. Songo Creative Partnership saat ini sedang menginisiasi Project Cocoon, suatu bentuk <em>collaborative social responsibility</em> yang didedikasikan kepada dunia pendidikan kreatif, yang berbentuk kegiatan magang nasional bagi para mahasiswa di bidang kreatif (khususnya Desain Komunikasi Visual) melalui suatu program inkubator kreatif. Project Cocoon ini merupakan wadah bagi para mahasiswa Indonesia terpilih untuk mengembangkan kapasitasnya dengan berkolaborasi dalam suatu habitat kreatif yang kondusif, lintas disiplin, dan dengan bimbingan para praktisi industri kreatif Indonesia terkemuka.</p>
<p><strong>3. Apakah anda termasuk seseorang yang ‘idealis’</strong>? </p>
<p>Kalau ada yang mengatakan demikian mudah-mudahan saja itu berarti sebuah <em>compliment</em> dan saya merasa tersanjung ☺ Tapi sebetulnya saya tidak begitu memahami, dan karenanya tidak terlalu peduli dengan pengkotak-kotakan semacam ini. Apa yang saya kerjakan mengalir begitu saja.</p>
<p><strong>4. Apa makna “idealisme” bagi seorang Hanny Kardinata?</strong> </p>
<p>Totalitas pengabdian kepada bidang desain grafis.</p>
<p><strong>5. Apa pandangan anda mengenai penerapan idealisme dalam dunia desain grafis?</strong> </p>
<p>Dalam artinya yang paling dasar, desain grafis adalah masalah bagaimana memberikan solusi secara kreatif terhadap suatu masalah, dan apabila anda selalu memberikan solusi yang terbaik maka itu adalah sesuatu yang ideal. Ini mungkin idealisme dalam bentuknya yang paling sederhana. Tapi prinsip ini bisa diperluas ke hal-hal yang lebih bersifat pengabdian, yaitu ketika anda bekerja tidak saja sebagai desainer grafis aktif tetapi juga sebagai aktivis desain grafis, dan berkarya nyata bagi kepentingan komunitas.</p>
<p><strong>6. Apakah idealisme mempengaruhi karakter perkembangan seorang desainer?</strong></p>
<p>Ya, tentu saja. Idealisme berkaitan dengan <em>passion</em>, seseorang yang <em>passionate</em> menampilkan aura yang berbeda dengan yang tidak.</p>
<p>7. Idealisme apakah yang anda pertahankan saat <a href="http://dgi-indonesia.com/release-pengunduran-diri-dari-versus/">mundur dari Versus Magazine</a> (kalau berkenan mohon di jawab, kalau sepertinya terlalu menyentuh ranah privasi tidak perlu)? ☺</p>
<p>Saya mengundurkan diri dari Versus demi menghindari perbenturan yang lebih serius terhadap arogansi pihak investor, yang seandainya terjadi tentu akan berakibat tidak baik bagi Versus sendiri (beberapa teman juga mengingatkan saya mengenai kemungkinan ini). Jadi konteks masalahnya lebih ke alasan moral. Saya mundur demi keberlangsungan Versus seterusnya.</p>
<p><strong>8. Apa makna Indonesia untuk anda?</strong></p>
<p>Indonesia bisa dimaknai secara berbeda-beda pada masanya, pada masa kini Indonesia adalah sebuah keruwetan nasional, begitu sulit diurai ujung pangkalnya, dan kita semua menjadi bagiannya. Supaya tidak menambah keruwetan, jangan hanya merasa kecewa, kita dituntut untuk tetap bekerja sebaik mungkin di bidang kita masing-masing. Inilah makna Indonesia bagi kita (baca: bagi saya) masa kini.</p>
<p><strong>9. Terima kasih atas waktu dan dukungannya.</strong></p>
<p>Terima kasih kembali dan sukses ya buat Sign Magz. Mari bersinergi memajukan desain grafis Indonesia.</p>
<p><em>* Sign Magazine adalah majalah digital yang berkonsentrasi pada masalah desain dan budaya.</em></p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p>Download majalahnya di <a href="http://dgi-indonesia.com/new-release-sign-magz-2/">Sign Magz #2</a></p>
<p><a href="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2009/11/signmagz-1.jpg"><img src="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2009/11/signmagz-1.jpg?w=225&#038;h=300" alt="" title="signmagz 1" width="225" height="300" class="alignnone size-medium wp-image-149" /></a></p>
<p>•••</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hannykardinata.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hannykardinata.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hannykardinata.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hannykardinata.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hannykardinata.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hannykardinata.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hannykardinata.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hannykardinata.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hannykardinata.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hannykardinata.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hannykardinata.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hannykardinata.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hannykardinata.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hannykardinata.wordpress.com/137/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hannykardinata.wordpress.com&amp;blog=848682&amp;post=137&amp;subd=hannykardinata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hannykardinata.wordpress.com/2009/11/04/wawancara-dengan-sign-magazine/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ec48f37e3142c8d4ac349568b3ffe183?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hannykardinata</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2009/11/signmagz-4.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">signmagz 4</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2009/11/signmagz-1.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">signmagz 1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wawancara dengan Anissa S Febrina/The Jakarta Post</title>
		<link>http://hannykardinata.wordpress.com/2009/09/01/wawancara-dengan-anissa-s-febrinathe-jakarta-post/</link>
		<comments>http://hannykardinata.wordpress.com/2009/09/01/wawancara-dengan-anissa-s-febrinathe-jakarta-post/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2009 00:00:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hannykardinata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Design]]></category>
		<category><![CDATA[2009]]></category>
		<category><![CDATA[Anissa S Febrina]]></category>
		<category><![CDATA[Hanny Kardinata]]></category>
		<category><![CDATA[The Jakarta Post]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hannykardinata.wordpress.com/?p=80</guid>
		<description><![CDATA[1. Sejak kapan dan siapa yang memulai usaha pendokumentasian tentang karya2 disain grafis yang sekarang ada di museum online-nya? Saya sempat ngubek2 isinya dan lengkap sekali sampai ada karya2 tahun 1930an, jadi ingin tahu lebih lanjut proses pengumpulan data2 tersebut. Situs DGI (Desain Grafis Indonesia) dimulai pada tahun 2007 (tepatnya 13 Maret 2007) oleh saya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hannykardinata.wordpress.com&amp;blog=848682&amp;post=80&amp;subd=hannykardinata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>1. Sejak kapan dan siapa yang memulai usaha pendokumentasian tentang karya2 disain grafis yang sekarang ada di museum <em>online</em>-nya? Saya sempat <em>ngubek2</em> isinya dan lengkap sekali sampai ada karya2 tahun 1930an, jadi ingin tahu lebih lanjut proses pengumpulan data2 tersebut.<br />
</strong></p>
<p>Situs DGI (Desain Grafis Indonesia) dimulai pada tahun 2007 (tepatnya 13 Maret 2007) oleh saya sendiri bertolak dari keprihatinan bahwa desain grafis Indonesia belum memiliki sejarah yang bisa dipelajari oleh angkatan yang lebih muda – kurikulum DKV selama ini hanya mengajarkan sejarah desain grafis internasional. </p>
<p>Pengelolaan situs ini, termasuk pengumpulan datanya sejauh ini juga saya lakukan sendiri dari sebuah sudut di rumah saya di bilangan Bintaro, di selatan Jakarta. Tetapi ke depannya pengumpulannya akan menjadi semakin sistematis karena bisa dikatakan akan melibatkan hampir setiap insan desainer grafis di seluruh Indonesia <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />  Maksudnya demikian: mulai tahun ini – DGI, didukung oleh ADGI (Asosiasi Desainer Grafis Indonesia) dan FDGI (Forum Desain Grafis Indonesia) – akan menyelenggarakan ajang penghargaan desain grafis tingkat nasional (baru pertama kali ini akan diselenggarakan): <a href="http://www.igda.web.id/">IGDA (Indonesian Graphic Design Award)</a>, yang <a href="http://dgi-indonesia.com/menuju-puncak-acara-panen-grafis-2009/">malam penganugerahan</a> (<em>awarding</em>) nya akan diadakan pada awal tahun 2010, dimana seluruh karya-karya (<em>entries</em>) yang masuk nominasi otomatis akan menjadi koleksi DGI dan Museum DGI. Dan untuk IGDA pertama ini kami akan menerima karya-karya yang diterbitkan lima tahun terakhir yaitu sejak tahun 2005 hingga 2009 – <em>submission</em> secara <em>online</em> dan <em>offline</em> – dimana yang <em>online</em> akan <a href="http://dgi-indonesia.com/pameran-karya-karya-finalis-igda-indonesian-graphic-design-award-2009-pada-dgi-online-exhibition-6/">dipublikasikan melalui situs DGI</a> atau situs IGDA, dan yang <em>offline</em> selain akan menjadi koleksi fisik MDGI juga direncanakan akan diterbitkan dalam sebuah buku. Dengan demikian upaya pengumpulan karya akan menjadi lebih sistematis dan tidak lagi dilakukan oleh saya sendiri <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Mungkin ada baiknya menyimak sejarah situs DGI ini sendiri melalui catatan perjalanan singkatnya yang tertuang pada: <a href="http://dgi-indonesia.com/situs-desain-grafis-indonesia-dgi-catatan-perjalanannya/">&#8220;Situs Desain Grafis Indonesia (DGI) – Catatan Perjalanannya&#8221;</a>.</p>
<p>Dan mengenai IGDA pada: <a href="http://dgi-indonesia.com/selamat-datang-igda/">&#8220;Selamat Datang IGDA!&#8221;</a> atau pada rubrik <a href="http://hannykardinata.wordpress.com/2009/05/13/belajar-memahami-ilmu-padi%E2%80%A6/">&#8220;Reflection&#8221;</a> yang saya tulis untuk majalah desain grafis Versus edisi #4. </p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>2. Juga kenapa dipilih <em>online</em>? Apakah sistemnya <em>open contributor/volunteerism</em> dan bagaimana me-<em>manage</em>-nya? Btw, sekarang masih pakai<em> free blogging wordpress</em> ya pak? Atau sudah punya <em>webhosting</em>?</strong></p>
<p>Dipilih <em>online</em> karena keinginan agar sejarah desain grafis Indonesia bisa dengan cepat dibaca dan diserap oleh siapapun yang membutuhkannya dan didorong oleh keinginan agar dunia juga mengetahui bahwa desain grafis Indonesia eksis dan memiliki catatan perjalanannya sendiri. Dengan memanfaatkan teknologi <em>virtual</em> ini saya juga ingin memperlihatkan kepada dunia, peran desain grafis Indonesia dan perjalanannya sebagai bagian integral dari sejarah desain grafis internasional, sebagai perwujudan dari upaya yang lebih ambisius, yaitu meletakkan desain grafis Indonesia pada peta desain grafis dunia. Strateginya adalah dengan juga menyertakan tulisan-tulisan mengenai sejarah desain grafis dunia di DGI, upaya kecil yang ternyata berhasil memancing ratusan <em>hits</em> dari luar Indonesia ke DGI setiap harinya.</p>
<p>Ke depannya, situs DGI akan dikembangkan menjadi portal khusus desain grafis Indonesia yang direncanakan sebagai pusat pendataan, pusat studi, analisa dan pengembangan desain grafis Indonesia. Masih sedang dipertimbangkan apakah itu semua bisa dicapai cukup dengan sebuah <em>web blog</em> atau harus dalam bentuk <em>web site</em>, saya – dibantu oleh seorang sahabat mantan ketua jurusan DKV sebuah universitas terkemuka di Jakarta – akan meluncurkan <a href="http://dgi-indonesia.com/">DGI versi baru</a>, rencananya pada ulang tahun ke-3 DGI pada tanggal 13 Maret 2010, atau mungkin juga sebelumnya.</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>3. Kapan rencananya museum fisiknya akan selesai dan siapa yang saat ini ikut berkontribusi mempersiapkan (pendanaan, desain, konstruksi, dll)? Rencananya yg di Ciganjur itu ya pak? Kenapa dipilih tempat tsb?</strong></p>
<p>Suatu hari pada sekitar 3 tahun yang lalu, sahabat lama saya, pelukis Arifien Neif ke rumah saya. Ngobrol-ngobrol, dia menawarkan supaya saya berkantor saja di rumahnya di Ciganjur. Tawaran ini tidak segera saya sambut karena saya memang belum membutuhkannya, saat itu saya sedang menikmati &#8216;nyaman&#8217;nya berkantor di rumah dan belum tahu sama sekali mengenai rumahnya selain terbatas pada isu bahwa rumahnya sangatlah artistik. Tawaran itu diulanginya kembali ketika Arifien berkunjung lagi ke rumah saya sekitar tahun lalu (2008) yang kemudian saya tanggapi lebih serius: &#8220;Bagaimana kalau saya pakai sebagai tempat berdiskusi?&#8221;. &#8220;Boleh&#8221;, jawabnya. Sepulang Arifien, saya jadi berpikir rumahnya pastilah besar sehingga boleh dipakai sebagai tempat berdiskusi. Maka keesokan harinya ketika Arifien datang lagi, saya pun <em>nglunjak</em>: &#8220;Bagaimana kalau dipakai sebagai museum?&#8221; <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />  Dan Arifien ketika itu menjawab: &#8220;Bisa&#8230; sambil jalan&#8221;. Itulah awal cerita mengapa <a href="http://dgi-indonesia.com/museum-dgi-desa-kreatif-chandari/">MDGI direncanakan berlokasi di Chandari</a>, sebuah lahan seluas 8.000 m2 dimana terdapat studio lukis Arifien, yang nantinya akan dikembangkan menjadi <em>creative cluster</em> dan akan menjadi strategis dengan akan dibangunnya jalan tol yang akan melalui salah satu sisinya.</p>
<p>Sejauh ini, Arifien telah menyelesaikan <em>draft</em> gambar arsitektur Chandari Creative Cluster, Arifien selain pelukis memiliki latar belakang pernah bekerja di sebuah biro arsitek juga. Terlampir <em>draft</em> Chandari dimana Museum DGI akan menjadi bagiannya (<em>attached</em>).</p>
<p>Pendanaan pembangunannya selain dari tabungan Arifien sendiri kemungkinan harus dilakukan secara bergotongroyong dengan menarik dana dari industri-industri terkait yang memiliki perhatian.</p>
<p>Baru-baru ini seorang teman yang pengajar di DKV ITB, Riama Maslan – sebagai duta MDGI (tim <em>survey</em>) – ke Breda, Belanda, dimana terdapat <a href="http://www.graphicdesignmuseum.nl/en/home/4">museum desain grafis pertama di dunia</a>. Mereka merasa <em>surprise</em> mendengar berita akan ada museum desain grafis kedua!</p>
<p><a href="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2009/09/tampak-diagonal-alt.jpg"><img src="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2009/09/tampak-diagonal-alt.jpg?w=600&#038;h=277" alt="" title="Tampak Diagonal alt" width="600" height="277" class="alignnone size-full wp-image-82" /></a></p>
<p><a href="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2009/09/denah-alt.jpg"><img src="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2009/09/denah-alt.jpg?w=600&#038;h=389" alt="" title="Denah alt" width="600" height="389" class="alignnone size-full wp-image-83" /></a></p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>4. Apakah setelah museum fisiknya selesai <em>platform online</em> ini akan tetap dilanjutkan? Apa akan dikembangkan serupa sistem wiki? &#8211;soalnya sepertinya menarik untuk tetap dihidupkan pak&#8230;&#8211;</strong></p>
<p>Terima kasih Anissa atas sarannya, tentu DGI <em>online</em> akan berlanjut, bukan seperti Wikipedia, tapi akan menjadi pusat studi dan pengembangan bidang desain grafis Indonesia.</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>5.  Kalau boleh tahu sedikit sejarah disain grafis di Indonesia, seperti siapa yg memulai apa yg bisa dibilang disain grafis Indonesia itu setelah jaman Belanda. Apa saja medianya dan bagaimana perkembangannya? &#8211;soalnya org awam seperti saya tahunya desain grafis yg cuma pakai program komputer pak &#8211;</strong></p>
<p>Belum lama ini di ajang FGDexpo 2009, DGI hadir dengan antara lain menampilkan <a href="http://dgi-indonesia.com/garis-waktu-desain-grafis-indonesia-2/">&#8220;Garis Waktu Desain Grafis Indonesia&#8221;</a>. Garis waktu ini saya siapkan tidak terlalu detail demi konsumsi pengunjung saat FGDexpo 2009 berlangsung, tapi sedikit demi sedikit sedang saya sempurnakan terus, karena di situs DGI sebenarnya sudah banyak terkumpul data yang tinggal dirangkaikan/disatukan saja. Mudah-mudahan ini membantu Anissa memperoleh gambaran yang lebih mendekati mengenai desain grafis Indonesia.</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>6. Mungkin seperti juga seni visual yang lain, ada yg <em>contemporary</em>, ada yg <em>mainstream</em>, ada yg <em>high art</em>, ada yg aplikatif. Kalau di dunia disain grafis itu seperti apa ya pak?</strong></p>
<p>Yang kontemporer tentu ada terus, karena apa yang kita hasilkan hari ini dengan sendirinya bersifat kontemporer dalam kaitannya dengan waktu. Istilah <em>mainstream</em> adalah dalam kaitannya dengan gaya (<em>style</em>), dalam desain grafis tentu juga ada karya dengan gaya <em>mainstream</em> tetapi pada pendapat saya, desain grafis tidak harus diupayakan mengikuti <em>trend</em>, kaidah utamanya adalah komunikatif, karena itu desain grafis juga disebut sebagai desain komunikasi visual. Di dalam desain grafis tidak dikenal istilah <em>high art</em>, dan dengan kecenderungan semakin meleburnya desain grafis dan seni visual (banyak praktek-praktek kerja desain grafis diberlakukan pada seni visual) maka istilah ini pun sudah menjadi tidak relevan. Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) yang timbul pada tahun 1975 adalah embrio dari kecenderungan ini. Salah satu konsep GSRB adalah meniadakan batasan antara seni murni dan seni terap (baca: seni tidak murni), dan semua fenomena kesenian termasuk desain pun kemudian dianggap sederajat.</p>
<p>.   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .   .</p>
<p><strong>7. Sekarang ini apa yg masih menjadi kendala perkembangan dan apresiasi terhadap disain grafis?</strong></p>
<p>Apresiasi terhadap desain grafis dewasa ini sudah jauh melampaui apa yang kami alami di tahun 1970an dimana baru ada satu dua studio desain grafis dan juga satu dua sekolah desain grafis. Kini sekolah-sekolah DKV menjadi salah satu tujuan utama banyak lulusan SMA, jumlahnya di seluruh Indonesia konon sudah mencapai sekitar 70 institusi. Toh masih ada jarak seperti yang Anissa catat juga di atas, yaitu pengertian terhadap keprofesionalannya yang di benak banyak orang masih suka dianggap sebagai orang yang asal bisa menjalankan komputer grafis saja (hal ini tentu didukung oleh fakta bahwa memang banyak orang yang menjalankan praktek sebagai desainer grafis hanya karena fasih menjalankan satu dua program komputer saja). Mereka sering memberikan jasa secara gratis dengan cara memasukkan biaya desain ke total harga cetak yang berakibat pada kurangnya apresiasi klien terhadap jasa ini. Ke depannya, ADGI bersama Depkominfo sedang mengupayakan pemberlakuan <a href="http://dgi-indonesia.com/adgi-membawa-desain-grafis-indonesia-menuju-standar-kompetensi-kerja-nasional-indonesia-skkni/">sertifikasi profesi</a> bagi desainer grafis. Kalau ini bisa diberlakukan, khalayak akan memperoleh pengertian mengenai perbedaan antara desainer grafis dengan desainer gratis <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Jakarta, 1 September 2009</p>
<p>•••</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hannykardinata.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hannykardinata.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hannykardinata.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hannykardinata.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hannykardinata.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hannykardinata.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hannykardinata.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hannykardinata.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hannykardinata.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hannykardinata.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hannykardinata.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hannykardinata.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hannykardinata.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hannykardinata.wordpress.com/80/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hannykardinata.wordpress.com&amp;blog=848682&amp;post=80&amp;subd=hannykardinata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hannykardinata.wordpress.com/2009/09/01/wawancara-dengan-anissa-s-febrinathe-jakarta-post/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ec48f37e3142c8d4ac349568b3ffe183?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hannykardinata</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2009/09/tampak-diagonal-alt.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Tampak Diagonal alt</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2009/09/denah-alt.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Denah alt</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Belajar Memahami Ilmu Padi…</title>
		<link>http://hannykardinata.wordpress.com/2009/05/13/belajar-memahami-ilmu-padi%e2%80%a6/</link>
		<comments>http://hannykardinata.wordpress.com/2009/05/13/belajar-memahami-ilmu-padi%e2%80%a6/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 May 2009 05:31:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hannykardinata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Design]]></category>
		<category><![CDATA[2009]]></category>
		<category><![CDATA[IGDA (Indonesian Graphic Design Award)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hannykardinata.wordpress.com/?p=92</guid>
		<description><![CDATA[Apa yang anda bayangkan jika mendengar kabar akan diselenggarakan sebuah kompetisi atau ajang penghargaan? Sebuah adu kemampuan untuk mencapai yang tertinggi, terkuat, tercepat atau apa pun, sebagaimana yang biasa kita saksikan di layar kaca atau baca di media-media on-line dan tercetak? Lalu bagaimana seandainya ada kompetisi yang sebaliknya, juaranya justru adalah yang terendah? Inilah rupanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hannykardinata.wordpress.com&amp;blog=848682&amp;post=92&amp;subd=hannykardinata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2009/05/belajar-memahami-ilmu-padi.jpg"><img src="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2009/05/belajar-memahami-ilmu-padi.jpg?w=600" alt="" title="belajar-memahami-ilmu-padi"   class="alignnone size-full wp-image-172" /></a></p>
<p>Apa yang anda bayangkan jika mendengar kabar akan diselenggarakan sebuah kompetisi atau ajang penghargaan? Sebuah adu kemampuan untuk mencapai yang tertinggi, terkuat, tercepat atau apa pun, sebagaimana yang biasa kita saksikan di layar kaca atau baca di media-media <em>on-line</em> dan tercetak? </p>
<p>Lalu bagaimana seandainya ada kompetisi yang sebaliknya, juaranya justru adalah yang terendah?</p>
<p>Inilah rupanya yang akan dinyatakan oleh <a href="http://www.igda.web.id/">IGDA (Indonesian Graphic Design Award)</a>, sebuah wujud penghargaan bermartabat bagi desainer grafis Indonesia yang baru pertamakalinya akan diadakan di Indonesia.</p>
<p>Lho kenapa bermartabat kalau pengakuan diberikan hanya kepada yang paling rendah?</p>
<p>Indonesia memiliki semangat luhur warisan leluhur mengenai superiotas – bertolakbelakang dengan apa yang diyakini oleh dunia Barat – yang dinyatakan melalui simbolisasi “bagai padi yang makin berisi makin merunduk” yang bermakna semakin tinggi pencapaian seseorang semakin rendahlah hatinya.</p>
<p>Bagi petani, kata-kata ini tidak berhenti hanya sebatas bibir, tapi telah menjadi kearifan hidup mereka turun temurun. Dengan kata lain, dari sekedar varietas yang ditanam untuk dimakan, padi –semenjak ditanam sampai dipanen– hadir sebagai suatu ritual yang menghidupi jiwa masyarakat penanamnya. </p>
<p>Analog dengan siklus padi itu, para petani grafis juga menjalani siklus berkarya sejak menanam (ide), bertumbuh dan merunduk (proses) hingga memanen (<em>output</em>). Dan rupanya, IGDA melihat “padi yang merunduk” itu sebagai gambaran idealisasi seorang juara, yang tetap rendah hati, bertanggungjawab dan lebih banyak memberi daripada menerima.</p>
<p>Selanjutnya kalau di abad ke-10 –menurut catatan Jonathan Rigg, ahli geografi dari University of Durham– Indonesia telah menjadi eksportir beras, maka mengapa tidak bila petani grafis masa kini mencoba mengulang hal yang sama, dengan berupaya mengekspor karya-karyanya supaya ikut mewarnai desain grafis dunia, sejajar tapi dengan gayanya sendiri?</p>
<p>Inilah idealisasi kedua yang rupanya diemban oleh IGDA sehingga bertekad memberikan apresiasi khusus bagi karya desain yang menghidupkan kembali atau yang melakukan inovasi terhadap inti-inti kebudayaan lokal. IGDA, lebih dari sekedar ajang penghargaan dan kompetisi pada umumnya, sesungguhnya menjadi cermin para petani grafis untuk berintrospeksi kembali membumi dan memberi kehidupan kembali kepada desain lokal.</p>
<p>Lalu sedemikian pentingkah bagi IGDA untuk memberi penghargaan khusus bagi karya desain masa kini yang mampu mempromosikan konsep desain lokal? </p>
<p>Telah terbukti memang bahwa yang mampu bertahan dari serbuan pasar global adalah petani grafis yang mampu merevitalisasi desain lokal untuk bersaing dan memiliki karakter di dunia internasional.</p>
<p>Mengenai hal ini pernah diungkapkan oleh Ray Bachtiar Drajat, fotografer yang sangat mendambakan identitas keIndonesiaan, dalam bukunya “Ritual Fotografi”, bahwa: </p>
<p>“Contoh kasus yang bisa dihubungkan dengan pentingnya budaya lokal dimunculkan ke permukaan adalah “gesekan” dengan negara tetangga kita, Malaysia. Sepertinya Pemerintah Negeri Jiran sudah menyadari betul bahwa dalam hal perdagangan harus ada “<em>brand image</em>” yang dijual selain kompromi dengan selera pasar. Nah, membaca kecenderungan ini, mungkin Malaysia yang sudah sadar akan pentingnya <em>brand image</em> ini sedang membidik pasar masyarakat internasional, lalu dengan sadar menjual budaya lokal dalam hal ini industri “batik” yang mereka akui sebagai industri batik tradisi Malaysia yang berkelanjutan (padahal kita tahu bahwa budaya batik adalah budaya Jawa). Dan bukan itu saja, dengan tak merasa berdosa sedikit pun, hampir seluruh kesenian dan budaya Indonesia kini dipublikasikan Malaysia dengan alasan “masih serumpun”.”</p>
<p>“Tentang perlu tidaknya konsep lokal kita angkat untuk bisa muncul di dunia digital yang tujuan utamanya adalah global, jelas perlu kita pertimbangkan lagi. Apalagi jika mengingat teori Malaysia, yang menjelaskan betapa pentingnya sebuah ciri yang bisa cepat mengingatkan pasar akan “siapa aku”. Contoh lokalitas yang bisa bersaing di pasar global adalah Jepang. Di bidang animasi Jepang yang teknologi awalnya mengacu pada teknologi animasi global seperti animasi-animasi produksi Walt Disney, kini malah menjadi trenseter. Ke-lokal-an konsep animasi Jepang bahkan menjadi inspirasi dan acuan sutradara-sutradara muda Hollywood seperti Wachowski bersaudara yang melahirkan trilogi sinema “The Matrix”.“</p>
<p>Dan sebagai penutup, saya kutipkan apa yang pernah disampaikan oleh Sultan Hamengku Buwono X melalui <a href="http://dgi-indonesia.com/sebuah-percakapan/">orasi budayanya pada pembukaan pameran Biennale Jogja IX tahun 2007</a>:</p>
<p>“Oleh sebab itu, kita sendiri jangan kalah oleh Malaysia dalam mengembangkan semangat kebangsaan, dengan menjadikan pluralisme perekatnya, sebagai ketahanan bangsa yang ampuh dalam menghadapi pergulatan globalisasi. Kita juga harus menjaga dan memelihara, serta merevitalisasi dan mengembangkan khasanah pusaka budaya kita yang memang amat kaya ini. Jangan sampai terjadi bangsa lain yang mengaku memiliki warisan budaya-budaya Nusantara, hanya karena mereka yang mampu mengembangkannya ke tingkat dunia.”</p>
<p>Jadi, mengapa tidak?</p>
<p>Ditulis oleh Hanny Kardinata berdasarkan masukan dari Henricus Kusbiantoro dan Ray Bachtiar Drajat.</p>
<p>jakarta, 13 Mei 2009</p>
<p>•••</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hannykardinata.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hannykardinata.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hannykardinata.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hannykardinata.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hannykardinata.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hannykardinata.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hannykardinata.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hannykardinata.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hannykardinata.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hannykardinata.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hannykardinata.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hannykardinata.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hannykardinata.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hannykardinata.wordpress.com/92/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hannykardinata.wordpress.com&amp;blog=848682&amp;post=92&amp;subd=hannykardinata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hannykardinata.wordpress.com/2009/05/13/belajar-memahami-ilmu-padi%e2%80%a6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ec48f37e3142c8d4ac349568b3ffe183?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hannykardinata</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2009/05/belajar-memahami-ilmu-padi.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">belajar-memahami-ilmu-padi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wawancara dengan Irwan Ahmett</title>
		<link>http://hannykardinata.wordpress.com/2008/04/15/wawancara-dengan-irwan-ahmett/</link>
		<comments>http://hannykardinata.wordpress.com/2008/04/15/wawancara-dengan-irwan-ahmett/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Apr 2008 11:32:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hannykardinata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Design]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hannykardinata.wordpress.com/?p=174</guid>
		<description><![CDATA[Hanny Kardinata INTERVIEW BERSAMA HANNY KARDINATA Irwan Ahmett (IA): Kesibukan terakhir? Hanny Kardinata (HK): Mengelola Situs Desain Grafis Indonesia (DGI). IA: Visi mengenai Situs DGI? HK: Situs DGI ini perwujudan sementara dari obsesi pada sejarah desain grafis Indonesia karena sejauh ini kita belum mempunyai sejarah yang tertulis mengenai kita sendiri. Cikal bakalnya adalah milis tertutup [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hannykardinata.wordpress.com&amp;blog=848682&amp;post=174&amp;subd=hannykardinata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2011/03/hanny-kardinata-dwd-1.gif"><img src="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2011/03/hanny-kardinata-dwd-1.gif?w=600" alt="" title="Hanny Kardinata-DWD #1"   class="alignnone size-full wp-image-175" /></a></p>
<p>Hanny Kardinata</p>
<p>INTERVIEW BERSAMA HANNY KARDINATA</p>
<p>Irwan Ahmett (IA): Kesibukan terakhir?</p>
<p>Hanny Kardinata (HK): Mengelola <a href="http://dgi-indonesia.com/">Situs Desain Grafis Indonesia (DGI)</a>.</p>
<p>IA: Visi mengenai Situs DGI?</p>
<p>HK: Situs DGI ini perwujudan sementara dari obsesi pada sejarah desain grafis Indonesia karena sejauh ini kita belum mempunyai sejarah yang tertulis mengenai kita sendiri. Cikal bakalnya adalah milis tertutup SDGI (Sejarah Desain Grafis Indonesia) yang pada awalnya beranggotakan beberapa orang pemerhati sejarah seperti Priyanto Sunarto, Henricus Kusbiantoro, Lucia Dambies, saya sendiri dll. Milis SDGI saya luncurkan sekitar Oktober 2003 dan situs DGI diawali pada Maret 2007.</p>
<p>IA: Target yang ingin dicapai?</p>
<p>HK: Sebuah buku sejarah yang lengkap, dan sebuah museum desain grafis Indonesia.</p>
<p>IA: Bagaimana reaksi dari teman-teman terhadap situs tersebut?</p>
<p>HK: Secara moral saya memperoleh dukungan dari banyak teman-teman desainer, saya juga memperoleh bantuan nyata dari beberapa teman yang rajin menyumbangkan tulisan-tulisannya yang inspiratif, tapi saya membutuhkan lebih banyak lagi tindakan nyata dengan misalnya setiap desainer mengirimkan profil dan karya-karyanya (dari sejak awal karirnya hingga sekarang) supaya kelak kita bisa memiliki sebuah galeri yang secara jelas memperlihatkan trend yang terjadi di negara kita setiap tahunnya. Situs DGI ini bukan milik perorangan tapi milik kita semua, rumah kita bersama dimana saya juru kuncinya… <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />  Jadi setiap desainer grafis Indonesia diharapkan kontribusinya, supaya upaya merangkai kembali sejarah kita ini cepat selesai.</p>
<p>IA: Makna desain grafis bagi seorang Hanny Kardinata?</p>
<p>HK: Bagian dari tugas pelayanan saya di dunia ini.</p>
<p>IA: Proyek desain yang masih dimimpikan?</p>
<p>HK: Berkolaborasi terus dengan desainer-desainer muda. Ini sudah saya awali bersama Ika Putranto pada pameran poster ‘One Globe One Flag’ pada FGDexpo Agustus yang lalu. Disini yang menarik adalah prosesnya, bukan terutama hasilnya, yaitu bagaimana mensinkronkan perbedaan visi dari dua desainer yang berbeda generasi. Saya dari angkatan 70′an, sedangkan Ika baru saja menyelesaikan S1-nya di UPH (Universitas Pelita Harapan).</p>
<p>IA: Pekerjaan terbesar dan menantang dari seorang desainer?</p>
<p>HK: Jawaban akan berbeda bagi tiap desainer dan di kurun waktu dimana dia berkarya. Bagi saya saat ini, adalah merangkai kembali mata rantai sejarah desain kita yang selama ini terpisah-pisah, atau menyatukan jejak-jejak sejarah dgi yang berserakan dimana-mana. Ini menjadi commitment seumur hidup.</p>
<p>IA: Dalam ‘chaos’ situation ini, peranan dan tanggung jawab apa yang diemban dari seorang desainer grafis?</p>
<p>HK: Desainer grafis adalah bagian yang tidak terpisahkan dari dinamika sosial yang terjadi di sekelilingnya, sebagai bagiannya desainer grafis tidak bisa berdiam diri saja menyaksikan misalnya planet bumi yang merupakan rumah besar kita bersama ini sedang menuju kehancuran akibat pemanasan global. Setiap desainer, dengan caranya masing-masing, seyogyanya berperan serta dalam upaya mengurangi efek rumah kaca ini.</p>
<p>IA: Bagaimana mencari karakter desain agar tidak berhenti di satu titik?</p>
<p>HK: Saya tidak begitu peduli dengan usaha pencarian karakter yang saya anggap akan muncul dengan sendirinya dalam perjalanan panjang kita sebagai desainer grafis (yang berkarya secara intens), artinya masalah karakter ini bagi saya merupakan prioritas yang kesekian. Dalam berkarya yang saya utamakan adalah upaya menciptakan karya desain yang terbaik, harus selalu lebih baik dari yang kemarin, seperti kalau mendaki gunung, untuk mencapai puncak tertinggi seseorang mesti melangkah lebih tinggi dan lebih tinggi lagi.</p>
<p>IA: Adakah mekanisme kerja kreatif ideal bagi desainer agar tidak mematikan dirinya sendiri?</p>
<p>HK: Dalam berkarya jangan terpaku hanya pada tujuan jangka pendek penciptaannya: fungsi desain sebagai alat promosi; tapi juga fungsi jangka panjangnya, bagaimana sebuah desain, setelah fungsi promosinya berakhir, tetap menarik sebagai sebuah karya seni, sebagai ‘a piece of art’. Terjadinya metamorfosa ini adalah konsekwensi logis dari hasil pemikiran yang sudah sejak awal diupayakan.</p>
<p>IA: Apakah sustainable design itu?</p>
<p>HK: Mirip seperti jawaban di atas adalah sebuah desain yang memiliki durability. Contohnya banyak sekali, misalnya poster-poster AM Cassandre, atau Milton Glaser.</p>
<p>IA: Apakah investasi terbaik seorang desainer yang harus disiapkan untuk hari tuanya?</p>
<p>HK: Menjadi pendidik dkv – formal mau pun informal – adalah ‘investasi’ terbaik. Mengapa? Karena di hari tua nanti anda bisa selalu tersenyum bahagia menyaksikan si A atau si B yang notabene dulu adalah murid-murid anda, kini telah berada di puncak-puncak pendakiannya.</p>
<p>Sunber: <a href="http://dgi-indonesia.com/dwd-1-sustainable-design-prolog/">DWD # 1: A Sustainable Design (Prolog)</a></p>
<p>•••</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hannykardinata.wordpress.com/174/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hannykardinata.wordpress.com/174/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hannykardinata.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hannykardinata.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hannykardinata.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hannykardinata.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hannykardinata.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hannykardinata.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hannykardinata.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hannykardinata.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hannykardinata.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hannykardinata.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hannykardinata.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hannykardinata.wordpress.com/174/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hannykardinata.wordpress.com/174/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hannykardinata.wordpress.com/174/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hannykardinata.wordpress.com&amp;blog=848682&amp;post=174&amp;subd=hannykardinata&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hannykardinata.wordpress.com/2008/04/15/wawancara-dengan-irwan-ahmett/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/ec48f37e3142c8d4ac349568b3ffe183?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hannykardinata</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://hannykardinata.files.wordpress.com/2011/03/hanny-kardinata-dwd-1.gif" medium="image">
			<media:title type="html">Hanny Kardinata-DWD #1</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
