<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>"in quotes"</title>
	<atom:link href="http://hannykardinata.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hannykardinata.wordpress.com</link>
	<description>Hanny Kardinata's Forum</description>
	<pubDate>Sun, 08 Jun 2008 03:28:27 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=MU</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Graphic Design Meet Architecture: QnA 1</title>
		<link>http://hannykardinata.wordpress.com/2008/04/14/graphic-design-architecture-qna-1/</link>
		<comments>http://hannykardinata.wordpress.com/2008/04/14/graphic-design-architecture-qna-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Apr 2008 13:11:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hannykardinata</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Design]]></category>

		<category><![CDATA[architecture]]></category>

		<category><![CDATA[desain komunikasi visual]]></category>

		<category><![CDATA[graphic design]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hannykardinata.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Q: Salam. Perkenalkan nama saya F, mahasiswa jurusan arsitektur semester 8 yang saat ini sedang menyusun persiapan tugas akhir. Saya mendapatkan alamat email bapak dari balasan email yang saya kirim di http://www.museum-indonesia.net. Ada beberapa keinginan saya untuk memperoleh beberapa informasi yang berasal dari orang yang berkompeten dalam hai ini seperti bapak. Yang saya ingin ketahui [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Q: Salam. Perkenalkan nama saya F, mahasiswa jurusan arsitektur semester 8 yang saat ini sedang menyusun persiapan tugas akhir. Saya mendapatkan alamat email bapak dari balasan email yang saya kirim di http://www.museum-indonesia.net. Ada beberapa keinginan saya untuk memperoleh beberapa informasi yang berasal dari orang yang berkompeten dalam hai ini seperti bapak. Yang saya ingin ketahui yaitu tentang museum di Indonesia. Pertanyaan saya sebagai berikut:<br />
1. Menurut data saat ini apakah museum di Indonesia sudah bisa dikatakan layak dan mencukupi serta telah sesuai standart internasional?<br />
2. Untuk membangun sebuah museum syarat apa saja yang perlu diperhatikan?<br />
3. Ada tidak museum yang mengkususkan koleksinya terhadap objek tertentu? Sebab dalam perancangan tugas akhir saya, saya mengambil judul Museum Desain Komunikasi Visual.<br />
4. Bila bapak mempunyai saran terhadap tugas akhir saya ini, saya mohon masukannya.</p>
<p>A: Terima kasih atas email-nya, sedapat mungkin saya akan menjawab pertanyaan-pertanyaan anda. Saya mencoba menjawabnya dari urutan terakhir dulu.</p>
<p>3. Setahu saya cukup banyak yang memfokuskan koleksinya pada obyek tertentu, misalnya saya dengar ada Museum Topeng di Bali, lalu dalam waktu dekat ini akan dibuka (soft-opening) Museum Kartun Indonesia, juga di Bali. Kalau di luar negeri sudah banyak Museum Poster (poster adalah bagian dari desain komunikasi visual).</p>
<p>Oleh Direktorat Museum anda diarahkan ke saya, saya kira karena judul tugas akhir anda adalah Museum Desain Komunikasi Visual yang serupa dengan ide yang sedang saya dkk rencanakan yaitu Museum Desain Grafis Indonesia. Bagaimana bentuk tugas akhir anda itu nantinya, berbentuk tulisan, atau miniatur museum secara fisik?</p>
<p>Museum DGI secara fisik saat ini memang masih sebatas wacana, tapi sekitar setahun yang lalu saya sudah memulainya dengan membuat sebuah museum maya. Anda bisa melihatnya di <a href="http://desaingrafisindonesia.wordpress.com/">DGI</a>. DGI merupakan upaya untuk menyusun story-line Sejarah Desain Grafis Indonesia yang merupakan esensi dari Museum DGI.</p>
<p>2. DGI masih bersifat maya dan sedang dalam proses menjadi museum secara fisik. Beberapa syarat yang perlu diperhatikan untuk membangun museum yang terutama adalah adanya koleksi benda yang relevan, adanya badan/organisasi pendiri, susunan pengurus (yang terdiri dari orang-orang yang mencintai museum), modal penyertaan yang menjamin keberadaan museum (supaya museum setelah berdiri bisa dikelola dengan baik) dsb. Satu hal lagi, pendiri dan pengelola harus melaporkan pendirian museum ke pemda setempat serta kepada direktorat museum. Manfaat dari upaya melaporkan dan mendaftarkan diri pada direktorat museum diantaranya adalah, nama museum akan dicantumkan dalam situs web milik direktorat sehingga akan meningkatkan jangkauan promosi, dan bila ada pelatihan/pembinaan oleh direktorat, maka museum yang terdaftar akan diikutsertakan.</p>
<p>Sebelum mendirikan museum dibutuhkan studi kelayakan secara seksama, baik dari segi administratif maupun dari segi isi atau content yang terkait dengan pemaknaan nilai sejarah yang hendak dijadikan tema utama dari museum. Studi mendalam sebelum pendirian museum penting dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak yang terkait. Misalnya sebelum mendirikan Museum Desain Grafis Indonesia (DGI) penting untuk mengundang berbagai pihak dari berbagai lapisan yang terkait dengan profesi dan bidang ilmu desain grafis.</p>
<p>1. Sepengetahuan saya museum di Indonesia belum sesuai dengan standar internasional, tapi saya bukan orang yang tepat untuk menjawab pertanyaan ini karena belum melakukan riset apa pun terhadap museum-museum yang ada di Indonesia.</p>
<p>Akhir kata, cobalah melakukan riset terhadap content Museum Desain Komunikasi Visual melalui situs DGI, barangkali akan banyak manfaat yang diperoleh. Sesudahnya kirim feedback ya&#8230;</p>
<p>•••</p>
<p>Q: Beberapa waktu yang lalu saya telah sempat menelusuri content yang bapak maksud dari situs DGI. Dan saya mendapat banyak masukan dalam penyusunan tugas akhir saya.</p>
<p>Dalam tugas akhir di jurusan saya, out-put yang diinginkan merupakan sebuah bentuk desain yang selesai. Sehingga saya membutuhkan cukup banyak referensi mengenai prinsip dan standart yang dibutuhkan dalam perancangannya. Sejauh ini saya telah mendapatkan beberapa contoh objek yang representatif. Namun untuk mendapatkan informasi lengkap mengenai museum yang spesifik pada desain grafis ataupun sejenisnya masih kesulitan.</p>
<p>Beberapa informasi penting yang masih harus saya kumpulkan adalah :<br />
1. Standart ruang yang dibutuhkan dalam museum desain ini. ruang-ruang apa saja yang wajib dimasukkan didalamnya.<br />
2. Apa saja yang perlu dikategorikan sebagai objek museum ini. Sebab saya juga telah berkonsultasi dengan dosen pembimbing saya dan menyarankan untuk memberi batasan yang jelas. Sementara yang saya ketahui bahwa objek museum harus bernilai sejarah.</p>
<p>Sementara ini dulu yang saya tanyakan. berikutnya saya mungkin akan mengirimkan file yang telah saya susun dalam bentuk makalah.</p>
<p>A: Bertolak dari situs DGI, saat ini saya sedang mencoba membuat museum maya: Museum DGI. Saya hanya memindahkan saja materi yang sudah terkumpul di situs DGI ke situs yang baru ini, tapi dengan susunan story-line yang jelas. Situs ini sedang dalam tahap pengisian, jadi belum saya sebarluaskan.</p>
<p>Anda bisa mencoba melihat situs baru ini di: <a href="http://web.mac.com/hankardinata/The_Indonesia_Museum_of_Graphic_Design/Welcome_to_IMGD.html">The Indonesia Museum of Graphic Design</a></p>
<p>Anda orang pertama yang melihat situs ini <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> karena pertanyaan-pertanyaan anda kebetulan sesuai dengan apa yang sedang saya persiapkan. Pada situs ini anda bisa melihat kategorisasi sebuah museum berdasarkan timeline, dimulai dari tahun 1600an sampai ke 1900an yang kemudian semakin dekat ke masa kini saya bagi per satu dasawarsa (1900-1909, 1910-1919 dst.). Kemudian di tiap dasawarsa saya buatkan kategori-kategori besar untuk menampung jenis-jenis desain grafis yang ada (Brand and Identity Systems Design, Corporate Communication Design dst.). Ini bisa jadi salah satu pengkategorian, yaitu berdasarkan waktu.</p>
<p>Selain itu, saya kira sebuah museum desain grafis bisa disusun berdasarkan kategori jenis desain grafisnya. Misalnya, ada ruang untuk branding dan sistem identity, ada untuk ilustrasi dsb. dimana di dalam masing-masing ruang diperlihatkan perjalanan sebuah jenis desain grafis dari masa ke masa. Saya kira, untuk sebuah museum fisik (bukan maya) pendekatan kedua ini akan lebih menarik.</p>
<p>Sebagai konsekwensi dari pendekatan kedua ini tiap ruang harus diperhitungkan untuk siap menampilkan setiap produk secara maksimal. Ruang untuk kategori Information Design (yang memuat antara lain poster-poster) jelas berbeda dengan ruang untuk Package Design (yang bentuknya 3-dimensi dan harus dilihat dari jarak dekat). Mengenai pengkategorian, anda bisa mengambil baik yang ada pada situs DGI atau pun pada Museum DGI. Pada situs DGI, pengkategoriannya lebih detail, poster misalnya punya ruang sendiri, sedang pada Museum DGI pengkategoriannya lebih luas (poster akan masuk pada kategori Information Design yang juga mencakup jenis-jenis lainnya). untuk mempelajari pengkategorian seperti di Museum DGI silahkan melihat situs-nya <a href="http://http://designarchives.aiga.org/">AIGA</a>. Saya mencoba menerapkan sistem AIGA ini pada Museum DGI, saya katakan mencoba, karena saya belum tau efektif tidaknya kalau belum mencoba. Kalau ternyata sistem ini tidak efektif, saya bisa merevisinya. Ini enaknya bikin museum maya, yang tentu tidak sama dengan museum fisik <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>•••</p>
<p>Q: Maaf nih pak, sebenarnya profesi keseharian bapak berkecimpung di dunia DKV yah, sebagai apa ?&#8230;. sebab pertanyaan kali ini hubungannya dengan DKV.</p>
<p>Pak Hanny, sehubungan dengan perancangan Museum DKV yang saya buat dibutuhkan tema perancangan. Yang sifatnya ada hubungan dengan objek yang dibuat (saran dosen). Saya mengambil tema &#8216;mengemas&#8217; - memberikan kemasan sebuah produk. Maaf yah Pak&#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> mungkin penjelasan berikut agak arsitektural banget&#8230;</p>
<p>Landasan pemikiran saya berasal dari obyek yang saya buat yaitu MUSEUM DESAIN KOMUNIKASI VISUAL. Saya meng-asosiasi-kan MUSEUM dengan PRODUK DKV. Sebab dua hal ini mempunyai keterkaitan yang kuat yakni ada sebuah proses kreatif untuk menghasilkan outputnya. Sehingga nantinya diharapkan desain museum saya adalah sebuah karya DKV baik itu ruang dan bentuknya tapi tidak secara vulgar serta-merta menempel karya.</p>
<p>Nah, yang menjadi pertanyaan saya adalah dalam mendesain sebuah kemasan apa saja yang menjadi faktor-faktornya? Bagaimana prosesnya. Saya mengutip dari situs DGI bahwa sebuah kemasan itu mempunyai sebuah pesan yang ingin disampaikan pada konsumen dan disimbolkan melalui layout, ilustrasi, teks dan typografi serta warna. Ada penjelasan khusus tidak mengenai hal ini? (mudah-mudahan saya tidak keliru menghubungkan kemasan dengan  produk DKV).</p>
<p>Tema ini yang kemudian diaplikasikan kedalam teknik rancangan arsitektural. Mengapa harus membutuhkan pemahaman yang dalam, sebab dalam mendesain arsitektur sendiri terdapat prinsip perancangan yang lebih kompleks. Prinsip perancangan ini yang akan saya persilangkan dengan pemahaman saya terhadap tema mengemas untuk memperoleh output prinsip-prinsip mendesain sebuah Museum DKV versi individual saya. Agak ruwet tapi inilah proses yang dilalui sebelum sampai pada pengolahan bentuk dan ruang.</p>
<p>Maaf Pak Hanny saya bikin repot, soalnya preview saya tinggal beberapa hari lagi. Terima kasih pak atas tanggapannya&#8230;</p>
<p>A: Kalau yang dimaksud dengan berkecimpung di dunia DKV adalah aktivitas mengajar, saya bukan seorang akademisi, tapi kalau yang dimaksud adalah sebagai praktisi ya saya memang praktisi.</p>
<p>Kemasan/packaging adalah salah satu produk DKV, dan menganalogikan &#8216;Museum&#8217; dengan &#8216;Produk DKV&#8217; saya kira sah-sah saja, karena salah satu karakter museum adalah konservasi yang berarti perlindungan/penyimpanan. Bukankah salah satu fungsi kemasan juga melindungi, melindungi produk yang ada di dalamnya? Selain itu fungsi kemasan juga menambah nilai estetika produknya yang berakibat akan menambah nilai jualnya. Museum Desain Komunikasi Visual yang sedang anda kerjakan kan juga digarap dengan mempertimbangkan faktor estetika, jadi memang asosiatif dengan kemasan. Lalu, semua produk DKV, termasuk kemasan, memang memiliki pesan yang ingin disampaikan, itulah sebabnya disebut sebagai komunikasi visual, pesan yang disampaikan secara visual. Jadi semua elemen yang terkandung di dalam sebuah kemasan - layout, ilustrasi, photography, typography, warna dsb. - mencerminkan suatu pesan yang ingin dikomunikasikan: fresh, strong, mewah, fashionable dsb.</p>
<p>•••</p>
<p>Q: Terima kasih atas jawabannya. Tapi saya masih mau nanya lagi&#8230;. : )</p>
<p>Beberapa waktu lalu saya telah berkonsultasi dengan dosen pembimbing saya mengenai tema tersebut yang berhubungan dengan kemasan. Tapi beliau kurang setuju dengan ide saya ini sebab beliau berpendapat bahwa kemasan bukanlah merupakan sebuah produk DKV. Beliau menganggap kemasan cuma sebagai sarana bagi desainer untuk mengkomunikasikan pesan melalui bentuk kemasan yang telah ada, sehingga beliau berpendapat esensi dari DKV itu sendiri adalah menyampaikan pesan itu sendiri. Dengan kata lain DKV sebatas mendesain perwajahan.</p>
<p>Kalau menurut bapak sebagai praktisi, mengganggap esensi dari DKV itu apa? Bukankah mendesain bentuk kemasan adalah hal penting yang juga menjadi kesatuan dalam mendesain? Saya yakin argumen bapak menjadi landasan berpikir saya untuk tetap bertahan pada tema ini, secara bapak adalah orang yang paling cocok untuk hal ini. Terus terang saya masih ingin memperjuangkan tema kemasan saya, sebab dipikiran saya sudah terbayang konsep secara keseluruhan. Bila mengganti tema akan cukup merepotkan.</p>
<p>A: Setiap kepala mungkin akan memiliki jawaban berbeda. Tapi fungsi utama DKV saya kira adalah to inform, mengkomunikasikan suatu pesan kepada khalayak tertentu dengan menggunakan elemen-elemen seni rupa. Dalam implementasinya bisa berbentuk kemasan. Jadi kemasan adalah salah satu produk DKV sebagaimana halnya dengan poster, brosur, logo dsb. </p>
<p>Kalau dosen pembimbing anda kurang setuju, mungkin karena dia tidak ingin anda menganalogikan DKV dengan kemasan. Kalau memang demikian, memang benar juga bahwa DKV tidak sama dengan kemasan, karena sebagai yang saya ungkapkan di atas kemasan adalah produk DKV, salah satu hasil akhirnya. Mungkin dia keberatan museum dianalogikan dengan salah satu hasil akhir DKV. Dari sisi ini dia ada benarnya. Rupanya dia mengharapkan anda menampilkan esensi DKV pada sebuah museum DKV.</p>
<p>Tapi cara berpikir anda yang mengasosiasikan museum dengan kemasan juga ada benarnya karena keduanya memiliki karakter yang serupa, sama-sama berfungsi melindungi/konservasi, sama-sama harus memiliki nilai estetika dsb.</p>
<p>Hanya saja karena dosen pembimbing anda menuntut asosiasi yang lebih tinggi yaitu dengan esensi DKV, mungkin anda dalam hal ini mesti &#8216;mengalah&#8217;, karena derajat esensi pasti lebih tinggi daripada implementasi. Sayang sekali, padahal bagus ya mengasosiasikan museum dengan kemasan&#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':-(' class='wp-smiley' /> </p>
<p>•••</p>
<p>Q: Dalam hal ini saya tampaknya tetap harus mengambil sebuah keputusan. Kalau mempertimbangkan dari berbagai masukan yang ada termasuk dari bapak, ya&#8230; ada baiknya tema yang saya ambil adalah sebuah esensi itu sendiri. Tapi untuk realisasi dalam konsep, saya rasa kemungkinan untuk memasukkan ide-ide saya sebelumnya masih tetap ada. Kalau dipikir-pikir justru ide saya lebih mempunyai makna yang lebih dalam dan bisa mengeksplorasi konsep yang lebih brilian&#8230; ha2x&#8230; ha2x&#8230; mudah2an bisa dapat A.</p>
<p>Oh iya pak, saya mau nanya, bapak sudah berapa lama berkiprah di jagad DKV ?</p>
<p>Pak! Makasih yach komentarnya&#8230; tampaknya sekarang jadi lebih semangat.</p>
<p>A: Syukurlah anda sudah bisa mengambil keputusan&#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> disini anda mengalah bukan karena dosen lebih tinggi daripada mahasiswa, tapi karena esensi lebih tinggi daripada implementasi. Saya juga yakin konsep kemasan anda masih bisa disisipkan di sana-sini.</p>
<p>Di DKV saya tergolong old soldier, saya dari angkatan &#8216;70an.</p>
<p>Good luck&#8230;</p>
<p>•••</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hannykardinata.wordpress.com/24/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hannykardinata.wordpress.com/24/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hannykardinata.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hannykardinata.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hannykardinata.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hannykardinata.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hannykardinata.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hannykardinata.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hannykardinata.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hannykardinata.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hannykardinata.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hannykardinata.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hannykardinata.wordpress.com&blog=848682&post=24&subd=hannykardinata&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hannykardinata.wordpress.com/2008/04/14/graphic-design-architecture-qna-1/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/hannykardinata-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hannykardinata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>25 Graphic Designers from Southeast Asia</title>
		<link>http://hannykardinata.wordpress.com/2007/05/16/25-graphic-designers-from-southeast-asia/</link>
		<comments>http://hannykardinata.wordpress.com/2007/05/16/25-graphic-designers-from-southeast-asia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 May 2007 05:16:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hannykardinata</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Design]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hannykardinata.wordpress.com/2007/05/16/25-graphic-designers-from-southeast-asia/</guid>
		<description><![CDATA[Menjelang abad baru (new millennium) kantor Conqueror Paper perwakilan Asia Pacific yang berkedudukan di Hong Kong mempunyai gagasan untuk menerbitkan sebuah buku mengenai desainer grafis Asia Tenggara &#8220;25 Graphic Designers from Southeast Asia&#8221;. Untuk itu seorang desainer grafis Malaysia (saya lupa namanya) telah ditunjuk untuk mewawancarai 5 desainer grafis wakil dari masing-masing negara (Indonesia, Malaysia, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Menjelang abad baru (new millennium) kantor Conqueror Paper perwakilan Asia Pacific yang berkedudukan di Hong Kong mempunyai gagasan untuk menerbitkan sebuah buku mengenai desainer grafis Asia Tenggara &#8220;25 Graphic Designers from Southeast Asia&#8221;. Untuk itu seorang desainer grafis Malaysia (saya lupa namanya) telah ditunjuk untuk mewawancarai 5 desainer grafis wakil dari masing-masing negara (Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina dan Thailand) dan sekaligus merancang desain bukunya. Seingat saya, kelima desainer dari Indonesia itu adalah: Wagiono Sunarto, Tjahjono Abdi, Hermawan Tansil, Irvan A Noe&#8217;man dan saya sendiri. Setelah itu, melalui email, kami diminta untuk memeriksa hasil wawancara yang sudah di layout bersama karya kami masing-masing, dengan target penerbitan tepat pada saat pergantian abad (tahun 2001). Tetapi sesudah itu kami tidak pernah dihubungi lagi dan hingga saat ini tidak pernah melihat peredaran buku itu. </p>
<p>Berikut di bawah ini saya kutipkan hasil wawancaranya dengan saya sebagaimana yang ditampilkan dalam buku itu:</p>
<p>Hanny Kardinata<br />
My basic philosophy in design is to transform every project I undertake into works of art. What guides me most when I design is structure, psychological effect and simplicity. All these elements are inherent in my design decisions. I worked as a graphic designer and art director with Citra Indonesia for 15 years until I began to work from home in 1995. From time to time, I assist Citra Indonesia with design projects, but my main focus is currently acting as a design consultant for Laras, Indonesia’s leading magazine for architecture and interior design. Lately, I have been concentrating more on editorial design projects, mostly designing books.</p>
<p>Q: What led you to graphic design?<br />
A: When I graduated from high school, I had three choices for further studies: architecture, psychology or graphic design. I opted for graphic design, which I personally cannot explain. But after a period of time, I realized that even in graphic design, there exists principles of architecture and psychological factors that do play a part in graphic design’s communicative role.</p>
<p>Q: What are your objectives as a graphic designer, and what factors influence or define your work ?<br />
A: My main objective is to use my profession to either inform or motivate my audience. This means that all the elements of design become the language for constructing an idea for effective communication . I believe in the ideals of minimalism where objectives are achieved through limited resources. The maxim of less is more characterises my work. I am only influenced by cultural elements in my work when a project is linked to the subject and whenever it is appropriate.</p>
<p>Q: How would you characterise the graphic design industry in your country?<br />
A: In economic terms, the standard of the graphic design industry in Indonesia has improved over the past decade. An increased acceptance of the graphic design profession, has encouraged more people to study it.</p>
<p>Q: Do you think that the context of practising design in Southeast Asia differs from other regions such as the Americas or Europe ?<br />
A: By using the same technology, we have achieved a giant leap in creating similarities in how design is produced.</p>
<p>Q: In your opinion, what would be the most effective way for graphic designers in the region to establish a dialogue or critique with each other and with other regions ?<br />
A: It would be truly rewarding if graphic designers from the region are able to collaborate in a workshop that could create and produce works in response to what is happening in the world today. This collaboration could start with a professional association from every country. At the end of the workshop, a culminating exhibition could take place in each participating country and travel to other parts of the world as a regional design showcase. If this could be done periodically, the result would be beneficial to designers throughout the region. This type of forum could also foster camaraderie and exchange of ideas. The management of this endeavour could be done in turn amongst the respective countries.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hannykardinata.wordpress.com/23/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hannykardinata.wordpress.com/23/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hannykardinata.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hannykardinata.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hannykardinata.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hannykardinata.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hannykardinata.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hannykardinata.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hannykardinata.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hannykardinata.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hannykardinata.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hannykardinata.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hannykardinata.wordpress.com&blog=848682&post=23&subd=hannykardinata&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hannykardinata.wordpress.com/2007/05/16/25-graphic-designers-from-southeast-asia/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/hannykardinata-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hannykardinata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Happiness</title>
		<link>http://hannykardinata.wordpress.com/2007/04/16/happiness/</link>
		<comments>http://hannykardinata.wordpress.com/2007/04/16/happiness/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Apr 2007 09:28:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hannykardinata</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Spiritual]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hannykardinata.wordpress.com/2007/04/16/happiness/</guid>
		<description><![CDATA[Q: Sesuai pembicaraan kita beberapa waktu ini, dan bimbingan pak Hanny yang bisa saya serap tentang fokus yang harus saya perhatikan, saya mohon petunjuknya, bagaimana dengan pengertian freedom + joy + hope = happiness?
- dari seorang desainer grafis lulusan DKV UPH 2007, 2007
A: Pertanyaan anda ini terpaksa mesti ditarik ke wilayah spiritual.
Mengapa Tuhan menciptakan kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Q: Sesuai pembicaraan kita beberapa waktu ini, dan bimbingan pak Hanny yang bisa saya serap tentang fokus yang harus saya perhatikan, saya mohon petunjuknya, bagaimana dengan pengertian freedom + joy + hope = happiness?<br />
- dari seorang desainer grafis lulusan DKV UPH 2007, 2007</p>
<p>A: Pertanyaan anda ini terpaksa mesti ditarik ke wilayah spiritual.</p>
<p>Mengapa Tuhan menciptakan kita begitu beragam, setiap orang diberiNya kemampuan/keahlian yang berbeda-beda? Karena Tuhan menginginkan agar dengan kemampuan kita masing-masing itu kita bisa saling melayani.</p>
<p>&#8216;Freedom&#8217; merupakan kebebasan untuk memilih. Tuhan tidak memaksakan kehendakNya, dia memberikan pilihan kepada setiap orang untuk berbuat sesuatu, sesuai dengan minat dan kemampuannya masing-masing. Maka setiap orang semestinya berusaha &#8216;mendengar&#8217; kan naluri (dorongan batin) nya masing-masing untuk mengetahui apa saja yang menjadi minatnya, dan kemudian menjadikan minatnya itu sebagai bidang pilihannya untuk melayani.</p>
<p>Tanda bahwa kita telah bekerja sesuai dengan minat kita itu adalah antusiasme atau &#8216;joy&#8217; itu. Jadi &#8216;joy&#8217; di sini bisa ditafsirkan sebagai kegembiraan yang diperoleh dari melayani orang lain sesuai dengan kemampuan kita. Ketika kita melakukan apa yang kita &#8217;suka&#8217; lakukan maka kita tidak membutuhkan seorang pun untuk memotivasi kita, atau mengawasi pekerjaan kita, bahkan kita tidak membutuhkan penghargaan atau tepuk tangan, karena kita senang melayani dengan cara kita itu.</p>
<p>Dan hasrat yang kuat membawa kepada kesempurnaan. Kalau kita tidak peduli pada tugas kita tidak mungkin kita menjadi menonjol atau hebat di bidang itu. Orang-orang yang sukses di bidangnya adalah orang-orang yang bekerja karena hasrat (passion) yang kuat. Maka &#8216;happiness&#8217; menjadi sesuatu yang dengan sendirinya terjadi kalau kita mengerjakan tugas kita dengan sepenuh hati sesuai dengan minat dan kemampuan kita itu.</p>
<p>Jadi di sini, keyword-nya adalah &#8216;pelayanan&#8217; dan kita diciptakan di dunia ini untuk menjadi &#8216;pelayan&#8217;.</p>
<p>•••</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hannykardinata.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hannykardinata.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hannykardinata.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hannykardinata.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hannykardinata.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hannykardinata.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hannykardinata.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hannykardinata.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hannykardinata.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hannykardinata.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hannykardinata.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hannykardinata.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hannykardinata.wordpress.com&blog=848682&post=21&subd=hannykardinata&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hannykardinata.wordpress.com/2007/04/16/happiness/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/hannykardinata-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hannykardinata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Registered Graphic Designer</title>
		<link>http://hannykardinata.wordpress.com/2007/04/09/registered-graphic-designer/</link>
		<comments>http://hannykardinata.wordpress.com/2007/04/09/registered-graphic-designer/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Apr 2007 09:21:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hannykardinata</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Design]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hannykardinata.wordpress.com/2007/04/09/registered-graphic-designer/</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai referensi, di bawah ini saya kutipkan hal-hal mengenai akreditasi profesi desainer grafis yang telah berhasil dilakukan oleh RGD Ontario, Canada.
Q: What is The Association of Registered Graphic Designers of Ontario (RGD Ontario)?
A: In 1996, RGD Ontario became the self-regulatory, professional body for graphic designers in the province of Ontario. The Association grants graphic designers [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Sebagai referensi, di bawah ini saya kutipkan hal-hal mengenai akreditasi profesi desainer grafis yang telah berhasil dilakukan oleh RGD Ontario, Canada.</p>
<p>Q: What is The Association of Registered Graphic Designers of Ontario (RGD Ontario)?<br />
A: In 1996, RGD Ontario became the self-regulatory, professional body for graphic designers in the province of Ontario. The Association grants graphic designers who qualify the right to the exclusive use of the designations Registered Graphic Designer and R.G.D. and is the governing and disciplinary body for its members. RGD Ontario is the only graphic design association in Canada to have such legislation.  </p>
<p>Q: What is a Registered Graphic Designer?<br />
A: A Registered Graphic Designer (R.G.D.) is a graphic design practitioner, manager or educator who has met the Association&#8217;s qualification criteria and has been granted the right to use these professional designations. No one else may use the designations Registered Graphic Designer or R.G.D. Persons in Ontario who are not Registered Graphic Designers are not excluded from practising graphic design. The R.G.D. and Registered Graphic Designer designations are signals of quality and competence to the profession, the public and the government.</p>
<p>Q: Why hire an R.G.D.?<br />
A: Industries and community benefit from the presence of R.G.D.s in their area. These benefits may include the following:<br />
• You may be assured that the R.G.D. you hire has met the standards necessary to practise as an accredited graphic designer.<br />
• R.G.D.s are governed by the Association’s Rules of Professional Conduct – offering greater certainty of fair and ethical practice in business dealings with clients, industry and fellow practitioners.<br />
• You can be secure in the knowledge that any concerns you may have will be heard by the Association of Registered Graphic Designers of Ontario, which is empowered to discipline its R.G.D. members.  </p>
<p>Q: How to select an R.G.D.?<br />
A: Choosing a Registered Graphic Designer capable of providing the scope and quality required to meet your needs is not complicated. Follow the same process you would for selecting any supplier for your business: ask friends and business associates for a referral; source the designer of work you have seen or admired; gather information from design publications, workshops or seminars. </p>
<p>Q: How can I get involved with RGD Ontario?<br />
A: RGD Ontario welcomes new members.</p>
<p>Provisional membership: If you have graduated from a three- or four-year graphic design program, and you are working as a graphic designer in Ontario, but you do not yet have seven years of combined education and experience, you may be eligible for Provisional membership. A provisional membership runs from January to December and the cost is $75 plus GST annually.</p>
<p>Student membership: If you are registered full-time in a three- or four-year graphic design program in the province of Ontario, you may be eligible for Student membership. A Student membership runs from September to August of the following year and the cost is $25 plus GST annually. RGD Ontario offers an annual Scholarship Awards program for Student members.</p>
<p>Student Subscriber: If you are registered full-time in a post-secondary educational program that is not a three- or four-year program of graphic design in Ontario, you are eligible to become a student Subscriber. For example, if you are enrolled in a graphic design program outside of Ontario, or you are enrolled in a two-year program in a related field such as Advertising and Design.</p>
<p>Associate membership: If you are not engaged in the practice or instruction of graphic design in Ontario, but you are active in an allied profession, or you own a business, organization, or institution that employs Members, you may be eligible for Associate membership. An Associate membership runs from January to December and the cost is $500 plus GST annually.</p>
<p>Professional – Registered Graphic Designer or R.G.D.:<br />
A Registered Graphic Designer and R.G.D. is a graphic design practitioner, manager or educator who has met the Association&#8217;s qualification criteria and has been granted the right to use these professional designations. No one else may use the designations Registered Graphic Designer or R.G.D. A Registered Member receives a membership number, membership card, certificate and embossing seal. The R.G.D. and Registered Graphic Designer designations are signals of quality and competence to the profession, the public and the government.</p>
<p>For more info on the R.G.D. Qualification Examination, go to www.rgdexamboard.com.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hannykardinata.wordpress.com/20/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hannykardinata.wordpress.com/20/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hannykardinata.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hannykardinata.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hannykardinata.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hannykardinata.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hannykardinata.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hannykardinata.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hannykardinata.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hannykardinata.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hannykardinata.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hannykardinata.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hannykardinata.wordpress.com&blog=848682&post=20&subd=hannykardinata&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hannykardinata.wordpress.com/2007/04/09/registered-graphic-designer/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/hannykardinata-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hannykardinata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memaknai Kompetisi</title>
		<link>http://hannykardinata.wordpress.com/2007/04/05/memaknai-kompetisi/</link>
		<comments>http://hannykardinata.wordpress.com/2007/04/05/memaknai-kompetisi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Apr 2007 06:26:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hannykardinata</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Design]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hannykardinata.wordpress.com/2007/04/05/memaknai-kompetisi/</guid>
		<description><![CDATA[(Sebuah renungan menyertai Kompetisi Desain &#8216;1001 Cover Concept&#8217;-April 2007)
Apa yang terjadi jika sejak kecil, mulai dari lingkungan keluarga, kita dididik untuk selalu memenangkan kompetisi? Tidakkah sistem ranking di sekolah telah memacu para siswa untuk mencapai yang terbaik, dengan cara apa pun, bahkan seandainya dengan cara tidak jujur sekalipun (nyontek, beli soal dsb)? Dan bagaimana kalau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>(Sebuah renungan menyertai Kompetisi Desain &#8216;1001 Cover Concept&#8217;-April 2007)</p>
<p>Apa yang terjadi jika sejak kecil, mulai dari lingkungan keluarga, kita dididik untuk selalu memenangkan kompetisi? Tidakkah sistem ranking di sekolah telah memacu para siswa untuk mencapai yang terbaik, dengan cara apa pun, bahkan seandainya dengan cara tidak jujur sekalipun (nyontek, beli soal dsb)? Dan bagaimana kalau kebiasaan itu kemudian kita bawa ke lingkungan kita berikutnya, tempat kerja kita? Bukankah akumulasi dari kebiasaan berkompetisi ini suatu saat akan bermetamorfose menjadi benih kanker korupsi? Korupsi, tidak saja dalam arti harafiah tapi juga mental? Jiplak menjiplak misalnya.</p>
<p>Lalu apakah berkompetisi selalu bersifat negatif? Tidak juga, yaitu kalau kebiasaan berkompetisi ini diarahkan ke diri sendiri, bukan terhadap orang lain. Bukankah sejarah mencatat kebudayaan berkembang karena manusia terus berusaha meningkatkan pencapaian dirinya? Hari ini mesti lebih baik dari kemarin, dan besok lebih baik lagi dari hari ini. Lebih baik bukan dari saingan anda tapi&#8230; dari diri anda sendiri sebelumnya! </p>
<p>Belajarlah kepada Edison, Newton atau Einstein. Atau tontonlah &#8216;October Sky&#8217;, kisah nyata keteladanan Homer Hickam memenangkan kompetisi terhadap dirinya sendiri. Semuanya bermula ketika Homer menyaksikan satelit pertama Sputnik melintas di kotanya yang menginspirasinya untuk belajar membuat roket. Dibantu oleh beberapa temannya, dari hari ke hari Homer terus berusaha meningkatkan kinerja roket yang dibuatnya secara trial-and-error itu (dimulai dari 30 kembang api!), sehingga akhirnya berhasil membuat pencapaian jarak terjauh yang dimungkinkan oleh sebuah roket rumahan. Pada bagian akhir film dikisahkan Homer dkk mengirimkan hasil karyanya ke kompetisi tahunan National Science Awards, dan berhasil memenangkannya. Pencapaian diri yang diperoleh dengan menaklukkan berbagai rintangan yang semakin sulit, yang pada gilirannya membentuk kematangan pribadi dan mengantar Homer ke takdirnya sebagai instruktur NASA.</p>
<p>Dalam berkarya, galilah potensi diri anda sendiri, temukanlah jati diri anda. Anda tidak harus dan tidak perlu membandingkan kemampuan anda dengan desainer lainnya. Mengapa demikian? Karena Tuhan merancang kita masing-masing sedemikian uniknya sehingga tidak ada yang benar-benar serupa di dunia ini. Dengan demikian tiap desainer diharapkan mampu menemukan keunikannya masing-masing dan kemudian menjalankan perannya yang berbeda-beda.</p>
<p>Yang jago menggambar, karyanya akan memiliki kandungan ilustrasi yang imajinatif (Tadanori Yokoo, Tjahjono Abdi). Yang memiliki sense yang kuat di bidang tipografi akan berkomunikasi secara persuasif melalui huruf (Kit Hinrichs, Danton Sihombing). Yang kuat di fotografi akan melahirkan karya desain yang fotografis-ekspresionistik (Hipgnosis/StormThorgerson). Jadi selalu ada bidang-bidang khusus di mana tiap desainer bisa melayani masyarakatnya sesuai dengan kemampuannya.</p>
<p>Renungan singkat ini saya akhiri dengan kata-kata bijak Dalai Lama: &#8220;I think there are two types of competition, or even a variety. One type you usually see quite often, a certain kind of jealousy, or some negative motivation, and then, of course, competition and compassion are contradictory. Then there is another kind of competition, I think, with a sincere motivation. For example, sometimes we as individuals, even within ourselves, feel: &#8216;Yesterday, I did such and such a thing. Today I have to do it better than yesterday.&#8217; You see, there is some kind of competitive feeling, but there is no negative motivation.&#8221; (&#8217;Art Meets Science and Spirituality in a Changing Economy&#8217;, edited by Louwrien Wijers, hal. 58).</p>
<p>Copyright © 2007 Hanny Kardinata</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hannykardinata.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hannykardinata.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hannykardinata.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hannykardinata.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hannykardinata.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hannykardinata.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hannykardinata.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hannykardinata.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hannykardinata.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hannykardinata.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hannykardinata.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hannykardinata.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hannykardinata.wordpress.com&blog=848682&post=18&subd=hannykardinata&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hannykardinata.wordpress.com/2007/04/05/memaknai-kompetisi/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/hannykardinata-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hannykardinata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Graphic Design: QnA 2</title>
		<link>http://hannykardinata.wordpress.com/2007/04/03/graphic-design-qa-2/</link>
		<comments>http://hannykardinata.wordpress.com/2007/04/03/graphic-design-qa-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Apr 2007 08:59:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hannykardinata</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Design]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hannykardinata.wordpress.com/2007/04/03/graphic-design-qa-2/</guid>
		<description><![CDATA[Q: Saya ingin bertanya ke pak Hanny saja. Menurut saya, kelompok akademisi dalam Adgi itu sifatnya kan edukasi, jadi apakah tidak sebaiknya dilindungi sehingga kader-kader Adgi berikutnya akan lahir dari kelompok tersebut yang akan menjaga establishment Adgi di masa depan, yang notabene saat ini belum mapan dalam hal keuangan. Saya melihat (mungkin) dengan iuran yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Q: Saya ingin bertanya ke pak Hanny saja. Menurut saya, kelompok akademisi dalam Adgi itu sifatnya kan edukasi, jadi apakah tidak sebaiknya dilindungi sehingga kader-kader Adgi berikutnya akan lahir dari kelompok tersebut yang akan menjaga establishment Adgi di masa depan, yang notabene saat ini belum mapan dalam hal keuangan. Saya melihat (mungkin) dengan iuran yang lebih terjangkau, kelompok ini akan membantu Adgi dari beberapa hal (saya melihat studi kasus AIGA dengan kampus-kampus desain di US):<br />
1. ketika Adgi butuh venue untuk menyelenggarakan konferensi akan lebih mudah rasanya bila mendapat tempat di kampus, lebih murah dari segi budget, dibantu koordinasi oleh mahasiswa untuk menyelenggarakan event-nya, serta merupakan suatu promosi yang baik.<br />
2. keuntungan bagi kampus: mahasiswa belajar, dosen belajar, kampusnya naik namanya (mungkin) dan keuntungan Adgi: mendapatkan dukungan yang baik dari lingkungan edukasi desain, penumbuhan kader2 baru serta mendapat bantuan koordinasi event.</p>
<p>Visi dan misi Adgi sudah jelas di bidang penjagaan profesi desain grafis bagi yang memiliki dan menjalankan usaha desain grafis. Namun, apakah visi dan misi ini sudah mencakup kebijakan atau regulasi kerja atas profesinya sendiri, misalnya problematika tentang kompensasi dan perlakuan adil terhadap karyawan desain? Saya melihat banyak contoh desainer grafis di ibukota yang digaji dengan kompensasi pas-pasan untuk hidup, padahal eksploitasi mereka di biro-biro desain tertentu melebihi kapasitasnya. Saya merasa visi dan misi Adgi belum menjangkau mereka.</p>
<p>Ini sifatnya hanya usulan pemikiran saya mengingat juga neo-Adgi ini baru established dalam beberapa tahun. Pemikiran saya muncul hanya atas azas pembelajaran saya dalam usaha memahami profesi desainer grafis di Indonesia ini.</p>
<p>Menurut pak Hanny bagaimana?</p>
<p>– dari seorang mahasiswa DKV ITB tingkat akhir, awal 2007</p>
<p>A: Idealnya sebuah organisasi profesi itu memang bisa mengakomodasi kepentingan semua pihak termasuk akademisi, juga kepentingan para desainer yang bekerja di studio-studio desain, bukan owner-nya saja. Tetapi bagaimana kita bisa mengharapkan Adgi bisa menghindari benturan-benturan yang mungkin saja terjadi akibat kemungkinan kompleksnya keanggotaannya ini?</p>
<p>Di jaman IPGI dulu pernah tercetus wacana untuk membedakan organisasi desainer dengan organisasi perusahaan. Bahkan sebetulnya sudah sempat terbentuk semacam persatuan perusahaan-perusahaan desain grafis (diberi nama GRID) yang sayangnya belum sempat beraktivitas, sehingga kita tidak pernah memperoleh pembelajaran dari kemungkinan-kemungkinan permasalahan yang mungkin terjadi di antara kedua jenis organisasi itu.</p>
<p>Sebetulnya desainer sekarang beruntung punya dua pilihan untuk berorganisasi, karena juga sudah ada FDGI (Forum Desainer Grafis Indonesia) yang kelihatannya keanggotaannya lebih didominasi oleh individu desainernya daripada owner studio-studio desain. Menarik mengamati manuver kedua organisasi ini dalam blantika industri desain grafis kita di masa depan.</p>
<p>•••</p>
<p>Q: Wacana organisasi profesi ini memang sangat menarik untuk dikaji, terutama ketika saya kemarin sempat ingin ikut keanggotaan Adgi untuk kategori akademisi, namun saya agak ragu, mungkin saya akan melihat keadaan terlebih dahulu. Sebelumnya saya minta maaf kalau saya hanya melihat dari sudut pandang mahasiswa, yang masih belajar.</p>
<p>Menurut saya, benturan-benturan dalam kompleksitas keanggotaan Adgi mungkin bisa diredam dengan kebijakan-kebijakan tertentu dari pihak Adgi. Namun dalam keadaan nyatanya memang hal ini sulit untuk terwujud. </p>
<p>Mengenai permasalahan menjadi dua organisasi menurut saya itu makin memperbesar jurang antara desainer-owner dengan desainer yang staf pekerja, jadi semakin memperuncing kekeruhan. Mungkin alangkah baiknya menjadi satu karena misinya kan sebenarnya satu yakni demi kemajuan profesi desain grafis di indonesia.</p>
<p>Mengenai sertifikasi, saya sebenarnya bingung, apabila ada sertifikasi terhadap profesi desain grafis oleh asosiasi seperti Adgi, masalahnya jadi aneh, lalu peran kampus dkv dalam memberi ijazah standarisasi jadi mubazir dong? Maksud saya jadi tidak jelas ketika seseorang lulus dari kampus masih harus diuji lagi kualitasnya oleh asosiasi. Kalau IDI kan jelas, untuk melindungi dan menjaga sumpah seorang dokter dalam mengemban kewajibannya di bidang kemanusiaan, walau sekarang nampaknya itu semua sudah semu, dokter sudah lebih memperhitungkan keuntungan material daripada tanggung jawab kemanusiaannya. Mungkin saya menangkap maksud pak Hanny seperti notaris/pengacara, mereka lulus dari suatu universitas/law school yang masih perlu ijin praktek dengan surat keabsahan praktek legal. Apakah begitu? (maaf kalau saya salah menafsirkan) atau saya salah? Pendapat saya sih, sepanjang untuk kemajuan desain grafis tapi sifatnya tidak merugikan pihak tertentu sih ok saja, namun prosedurnya agak belum terbayang.</p>
<p>Namun saya pada dasarnya lebih setuju kalau asosiasi seperti Adgi ini punya sifat mengayomi profesi desainer grafis, terutama dalam hal edukasi. Perihal masalah Haki yang sekarang tengah digembar-gemborkan buat saya masih menjadi prioritas kedua karena pada dasarnya suatu karya yang telah dibuat untuk dinikmati publik, rasanya tidak relevan bila masih mempeributkan masalah siapa yang menciptakannya (dalam konteks karya desain, kalau karya musik dan pembajakannya lain hal).</p>
<p>Dalam hal edukasi (menurut saya sih) kalau Adgi menerapkan member fee dalam jumlah sekian tentunya sudah sepatutnya ada pembelajaran bagi member-membernya, misalnya kan Agustus ini di event FGD expo akan hadir Stefan Sagmeister - desainer AIGA dari US, mungkin&#8230; hehehe&#8230; Adgi akan memberi ID pass untuk ikut acara tersebut tanpa biaya - untuk apresiasi/edukasi - atau kompensasi member fee yang memang diperuntukkan untuk kemajuan desain grafis Indonesia&#8230; hehehe&#8230;</p>
<p>Waduh pak Hanny, lama kelamaan saya bisa di-black list sama graphic-graphic house yang ada di Jakarta atas surat ini&#8230; hehehe&#8230; atau bahkan tidak boleh masuk Adgi&#8230; hehehe&#8230; yah&#8230; sebelumnya maaf kalau ada kalimat yang kurang sopan, saya tidak bermaksud untuk mendiskreditkan pihak tertentu.</p>
<p>Kalau boleh saya bertanya, pak Hanny kan mengalami masa IPGI, sebenarnya apa yang terjadi apakah sudah benar seperti diceritakan di majalah Concept edisi yang lalu?</p>
<p>A: Saya juga merasa tidak seharusnya ada dua organisasi yang berbeda kepentingan seperti itu, dulu pun tidak dimaksudkan demikian. Apalagi semua anggota GRID ketika itu adalah anggota IPGI (yang sudah memiliki studio-studio desain sendiri).</p>
<p>Masalah sertifikasi ini kebetulan saja saya pernah dimintai pendapat oleh salah seorang pengurus Adgi. Ketika itu saya jawab bahwa ini masalah yang sangat kompleks, terutama di negara kita yang kualitas desainernya sangat beragam mulai dari yang otodidak, ikut kursus sana-sini sampai yang jebolan sekolah luar. ditambah lagi oleh perkembangan teknologi yang menghasilkan disiplin yang begitu beragam mulai dari yang printed, web hingga ke motion graphics. Tapi kabarnya Ontario-Canada sudah berhasil membuatnya.</p>
<p>Masalah Haki juga tidak terlalu menarik perhatian saya. Ketika salah seorang klien saya mencak-mencak karena desain-desain yang saya ciptakan bagi mereka diikuti (dijiplak) terus-menerus oleh kompetitornya, saya kok malah merasa bangga.</p>
<p>Tulisan saya mengenai IPGI itu saya maksudkan sebagai tulisan awal yang masih bisa dan harus disempurnakan. Karena itu selama proses penulisannya selalu saya forward ke pak Pri dan pak Gauri untuk dikoreksi. Saya menyadari bahwa saya sudah cukup berumur, mungkin saja ada ingatan yang salah, tetapi sejauh ini saya belum menerima koreksi apa pun dari teman-teman lainnya. Mengapa anda menanyakannya? Ada bagian yang ingin dikutip?</p>
<p>Sebetulnya ada kesalahan koreksi yang dilakukan oleh Concept pada paragraf terakhirnya yang diakibatkan program yang dipakai tidak bisa membedakan antara Adgi lama dan Adgi baru. Tetapi itu sudah diralat pada Concept edisi berikutnya: seluruh paragraf itu dimuat ulang! Tolong anda melihat ralatnya pada edisi 14.</p>
<p>•••</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hannykardinata.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hannykardinata.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hannykardinata.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hannykardinata.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hannykardinata.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hannykardinata.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hannykardinata.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hannykardinata.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hannykardinata.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hannykardinata.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hannykardinata.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hannykardinata.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hannykardinata.wordpress.com&blog=848682&post=17&subd=hannykardinata&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hannykardinata.wordpress.com/2007/04/03/graphic-design-qa-2/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/hannykardinata-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hannykardinata</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Graphic Design: QnA 1</title>
		<link>http://hannykardinata.wordpress.com/2007/03/26/11/</link>
		<comments>http://hannykardinata.wordpress.com/2007/03/26/11/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Mar 2007 04:43:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hannykardinata</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Design]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hannykardinata.wordpress.com/2007/03/26/11/</guid>
		<description><![CDATA[Q: Saat ini saya sangat tertarik pada karya pak Hanny, ilustrasi poster Guruh Soekarnoputra. Pada karya tersebut saya melihat sebuah desain yang kaya akan nilai seni ditinjau dari segi gaya gambar yang bisa dibilang artistik dengan cat minyak pada kanvas (mungkin, menurut saya, maaf kalau salah) dipadukan dengan sarung batik yang dipergunakan oleh beliau yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Q: Saat ini saya sangat tertarik pada karya pak Hanny, ilustrasi poster Guruh Soekarnoputra. Pada karya tersebut saya melihat sebuah desain yang kaya akan nilai seni ditinjau dari segi gaya gambar yang bisa dibilang artistik dengan cat minyak pada kanvas (mungkin, menurut saya, maaf kalau salah) dipadukan dengan sarung batik yang dipergunakan oleh beliau yang mencerminkan gaya kubisme (walau tidak terlihat seperti kubisme namun kalau diperhatikan secara sekilas seperti kubisme, maaf juga kalau salah). Apabila diperbolehkan, saya ingin mengetahui filosofi apa yang bapak &#8216;attach&#8217; di poster tersebut atau mungkin ada ide yang memang sengaja dituangkan pada poster tersebut?<br />
– dari seorang mahasiswa DKV ITB tingkat akhir, akhir 2006</p>
<p>A: Guruh adalah figur yang sangat Indonesia, jadi ketika beliau meminta saya menggambarnya untuk kebutuhan poster, brosur dan sampul kaset pertunjukan perdana Swara Mahardhika, saya hanya berpikir bagaimana saya bisa menampilkan beliau se-Indonesia mungkin. Karena itulah ada elemen2 batik, gunung, pedesaan, pohon pisang dan juga unsur warna merah-putih di dalam ilustrasi tersebut, yang membuat orang langsung mengenali bahwa inilah Indonesia. Style yang saya pergunakan adalah art deco (bukan kubisme). </p>
<p>Kenapa art deco? Pertama, karena saya mengenal musik Guruh yang dipengaruhi musik tahun 1920/30an (masa di mana art deco berjaya di Eropa, dan kemudian juga di Indonesia karena &#8216;dibawa&#8217; oleh Belanda) dan kedua, karena Guruh sendiri ingin ditampilkan dengan style tersebut. Jadi klop.</p>
<p>Selanjutnya seluruh elemen desain (warna, bentuk, tekstur, garis dll.) saya arahkan untuk &#8216;mengekspresikan musik&#8217;, supaya secara keseluruhan ilustrasi itu menampilkan kesan &#8216;musical&#8217;. Perhatikan terutama elemen garis-garisnya, pada daun pisang, pada motif batik yang saya pilih, juga rumah-rumah di latar belakang. Saya tidak berhenti hanya sampai pada bentuk visual yang kasat mata tapi di sini bentuk telah berubah menjadi irama, sesuatu yang tidak kasat mata tapi barangkali bisa dirasakan. </p>
<p>Gambar Guruh itu saya buat dalam ukuran besar (saya menggambarnya di lantai) menggunakan poster color dengan teknik gambar dry-brush.</p>
<p><a href='http://hannykardinata.files.wordpress.com/2007/03/illust-guruhsoekarnoputra.gif' title='Guruh Soekarnoputra, ilustrasi untuk materi cetak pertunjukan perdananya'>Guruh Soekarnoputra, ilustrasi untuk materi cetak pertunjukan perdana Swara Mahardhika</a></p>
<p>•••</p>
<p>Q: Dengar-dengar pak Hanny memang suka teknik manual ya (maksudnya non-computing)?<br />
– dari seorang mahasiswa DKV ITB tingkat akhir, akhir 2006</p>
<p>A: Barangkali kebetulan saja saya tumbuh di era yang manual itu. Tapi memang ada elemen2 desain yang saya rasa tidak bisa ditampilkan maksimal melalui komputer. Misalnya, tekstur. Kembali ke ilustrasi Guruh itu, saya sengaja memilih kertas bertekstur supaya terlihat melalui teknik goresan kuas saya. Mungkin anda tidak melihatnya karena yang bisa kita lihat sekarang ini hanyalah fotonya, tapi kalau berkesempatan melihat gambar aslinya maka tekstur kertas itu akan kelihatan jelas dan memberi &#8216;nyawa&#8217; kepada keseluruhan ilustrasi tersebut. Pada ilustrasi yang menggunakan komputer, kita akan melihat hasil yang streril atau tidak memiliki &#8216;roh&#8217;. Barangkali ini salah satu kekurangan komputer, tentu saja di samping banyak kelebihan-kelebihannya yang lain.</p>
<p>•••</p>
<p>Q: Sekarang ini kan lagi trend anak-anak desain bikin karya pakai motif kriwil-kriwil, katanya supaya lebih etnik, tanggapan bapak bagaimana? Dan seharusnya bagaimana?<br />
– dari seorang mahasiswa DKV ITB tingkat akhir, akhir 2006</p>
<p>A: Mengenai penggunaan motif kriwil-kriwil itu sebenarnya terpulang kembali kepada makna atau fungsinya, apakah elemen tersebut memiliki makna yang substansial, atau berfungsi di dalam konsep desainnya? Kalau tidak, mengapa kita mesti menggunakannya?</p>
<p>•••</p>
<p>Q: Setelah lulus sekolah saya mulai berkarir sebagai desainer grafis di sebuah studio desain ternama. Setelah beberapa bulan bekerja, saya mulai merasa bahwa hasil karya saya tidak pernah sebagus apa yang dihasilkan teman-teman saya desainer lainnya sekantor. Rasa percaya diri saya mulai berkurang dan timbul pertanyaan apakah saya memang mempunyai talenta dan sudah tepat berada di posisi desainer ini? Kondisi sedemikian ini menghadirkan tekanan-tekanan yang membuat saya selalu merasa tegang berada di lingkungan kantor.<br />
- dari seorang desainer grafis lulusan sekolah desain ternama di luar negeri, awal 2007.</p>
<p>A: Anda tidak harus dan tidak perlu membandingkan kemampuan anda dengan desainer lainnya. Tuhan merancang kita masing-masing sedemikian uniknya sehingga tidak ada yang benar-benar serupa di dunia ini. Dengan demikian tiap desainer diharapkan mampu menemukan keunikannya masing-masing dan kemudian menjalankan perannya yang berbeda-beda. </p>
<p>Ada desainer yang memiliki kelebihan dalam menggambar, sehingga desainnya selalu memiliki kandungan ilustrasi yang menjadi trademark tiap rancangannya. Ada yang memiliki sense yang kuat di bidang tipografi yang membuat hampir seluruh rancangannya merupakan hasil komposisi yang luar biasa dari huruf-huruf. Yang kuat di fotografi akan membuat desain yang menyertakan karya-karya fotografinya. Desainer yang merasa kelebihannya adalah dalam merancang logo akan bekerja di studio yang mengkhususkan diri di bidang branding. Studio yang lain memilih spesialisasi di bidang merancang buku, dan menjadi istimewa di bidang ini. Jadi selalu ada bidang-bidang khusus di mana tiap desainer bisa melayani masyarakatnya sesuai dengan kemampuannya. </p>
<p>Rick Warren dalam bukunya ‘The Purpose Driven Life’ mengatakan: “Pengrajin kayu tahu bahwa lebih mudah untuk bekerja sesuai alur kayu ketimbang melawannya. Demikian juga, ketika anda dipaksa untuk melayani dengan cara yang ‘tidak sebagaimana mestinya’ untuk temperamen anda, hal tersebut menimbulkan ketegangan dan ketidaknyamanan, membutuhkan usaha dan tenaga ekstra, dan menghasilkan kurang dari yang terbaik. Karena itu meniru pelayanan orang lain tidak pernah berhasil. Anda tidak memiliki kepribadian mereka.”</p>
<p>•••</p>
<p>Q: Melihat perjalanan karir pak Hanny mulai dari IPGI, bagaimana pak Hanny melihat perkembangan gerakan seni rupa baru?<br />
– dari seorang mahasiswa DKV ITB tingkat akhir, awal 2007</p>
<p>A: Peran gerakan seni rupa baru penting dalam mengubah pandangan mengenai seni rupa yang tadinya hanya dibatasi pada fine art saja (seni lukis, seni patung dan seni grafis). Gerakan ini menerima semua kemungkinan berekspresi (yang tidak dibatasi hanya pada elemen-elemen seni rupa lama), termasuk di antaranya elemen-elemen ruang, gerak dan waktu, yang pada gilirannya telah berjasa melahirkan karya-karya instalasi.</p>
<p>•••</p>
<p>Q: Berhubung saya banyak melihat pak Hanny di event-event Adgi (lihat di majalah Concept), ada satu hal yang ingin saya tanyakan mengenai neo-Adgi ini.</p>
<p>Jikalau boleh jujur (pendapat saya pribadi) entah kenapa neo-Adgi ini punya sifat eksklusif? Hal tersebut saya tangkap dari beberapa point yakni:<br />
1. Pendaftaran keanggotaan dipungut biaya lumayan tinggi (menurut saya, untuk kelompok F/akademisi-mahasiswa) rasanya kurang sanggup untuk membayar sebesar itu.<br />
2. Kenapa pendaftaran harus mendapat approval dari member yang sudah terdaftar? (minimal 3 orang)? Saya melihat apabila ada kasus seorang desainer grafis mempunyai reputasi buruk atau dia punya permasalahan dengan salah satu approvan maka dia akan dipersulit/ditolak untuk menjadi member Adgi?<br />
– dari seorang mahasiswa DKV ITB tingkat akhir, awal 2007</p>
<p>A: Adgi baru terkesan eksklusif? Berapa ya iuran untuk anggota yang akademisi/mahasiswa? Sebetulnya mahal tidaknya iuran anggota ini relatif, yaitu kalau nilainya sebanding dengan apa yang diterima mungkin akan dirasa tidak mahal. Masalahnya, Adgi mungkin kurang mensosialisasikan manfaat keanggotaannya, sehingga iuran dianggap mahal.</p>
<p>Adanya klausul mengenai persetujuan dari 3 orang anggota lama itu memang akan &#8216;mempersulit&#8217; masuknya anggota baru. Itu dilakukan barangkali dengan tujuan menyaring. Saya tidak tahu apakah ini ada hubungannya dengan standar keprofesian yang biasa berlaku pada organisasi-organisasi profesi? Artinya, dengan menjadi anggota Adgi otomatis seseorang diakui telah memenuhi standar kerja sebagai desainer profesional? Dan mungkin karena - saya kira - standarnya memang belum ada, maka untuk menghindari subyektivitas individual penilainya, dicantumkanlah keharusan melalui persetujuan 3 orang itu. Saya rasa standar keprofesian ini sudah diterapkan pada organisasi-organisasi profesi yang sudah lebih mapan seperti IDI atau IAI.</p>
<p>Saya akan coba melayangkan pertanyaan anda ini ke milis Adgi, supaya memperoleh tanggapan yang lebih proporsional.</p>
<p>•••</p>
<p>Berikut adalah jawaban dari Danton Sihombing (salah seorang anggota presidium Adgi 2006-2007):</p>
<p>&#8211;&gt; PENDAFTARAN YANG DIPUNGUT BIAYA LUMAYAN TINGGI<br />
• Bahwa biaya sebesar Rp. 900.000,- + Rp. 50.000,-(biaya admin) sudah diperhitungkan dengan matang dengan landasan sbb:<br />
— Vision=Money, the bigger vision you set, the bigger money you need, artinya &#8220;KITA BERUPAYA UNTUK TERUS MEMBESARKAN KERANGKA/WACANA BERPIKIR KITA UNTUK TUJUAN YANG LEBIH BESAR&#8221;<br />
Untuk merealisasikan visi dan misi Adgi, diperlukan &#8216;Capital Gain&#8217; untuk mencapai tujuan jangka pendek dan jangka panjang dalam membangun fondasi dari keseluruhan cakupan-cakupan produk Adgi, seperti produk2 regulasi, komersial dan peningkatan kualitas keprofesionalan/SDM.<br />
— Bila kita melakukan &#8216;breakdown&#8217; setiap program benefit yang sudah dan akan diluncurkan oleh Adgi, maka value for money dari akumulatif program benefit bagi member dalam setahun melebihi dari jumlah Rp. 950.000,-<br />
— Jadi relativitas angka Rp. 950.000,- tergantung bagaimana kita melihatnya dan bagaimana KOMITMEN kita bersama untuk memajukan industri desain grafis Indonesia via Adgi. Apa kita bisa bergerak tanpa &#8217;start up capital&#8217; yang memadai, pengalaman sudah bicara and the answer is absolutely NO.<br />
— Bahwa organisasi yang baik harus mampu menjawab komponen 3K=Ketertarikan, Kepentingan, Keuntungan setiap anggotanya. Money talk,<br />
right?</p>
<p>&#8211;&gt; MENGAPA PENDAFTARAN HARUS MENDAPAT APPROVAL DARI MEMBER YANG SUDAH TERDAFTAR?<br />
Singkatnya, ini adalah suatu cara untuk nurturing leadership bagi setiap anggota. Bagi yang membawa/meng-approved, dia punya kewajiban untuk mempromote dan bertanggung jawab atas anggota baru yang dibawanya. Jadi &#8217;scanning process&#8217; tidak berbasis pada like or dislike—bagi yang bereputasi buruk ya kita harus sehatkan!</p>
<p>Demikian penjelasan singkat dari saya. Mudah2an dapat memberikan pemahaman yang lebih baik. Terima kasih sekali atas kepeduliannya dengan mengajukan pertanyaan tersebut di atas.</p>
<p>Salam,</p>
<p>Danton Sihombing, MFA</p>
<p>•••</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/hannykardinata.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/hannykardinata.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hannykardinata.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hannykardinata.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hannykardinata.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hannykardinata.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hannykardinata.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hannykardinata.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hannykardinata.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hannykardinata.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hannykardinata.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hannykardinata.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hannykardinata.wordpress.com&blog=848682&post=11&subd=hannykardinata&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hannykardinata.wordpress.com/2007/03/26/11/feed/</wfw:commentRss>
	
		<media:content url="http://a.wordpress.com/avatar/hannykardinata-128.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hannykardinata</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>