Wawancara dengan Anissa S Febrina/The Jakarta Post
1. Sejak kapan dan siapa yang memulai usaha pendokumentasian tentang karya2 disain grafis yang sekarang ada di museum online-nya? Saya sempat ngubek2 isinya dan lengkap sekali sampai ada karya2 tahun 1930an, jadi ingin tahu lebih lanjut proses pengumpulan data2 tersebut.
Situs DGI (Desain Grafis Indonesia) dimulai pada tahun 2007 (tepatnya 13 Maret 2007) oleh saya sendiri bertolak dari keprihatinan bahwa desain grafis Indonesia belum memiliki sejarah yang bisa dipelajari oleh angkatan yang lebih muda – kurikulum DKV selama ini hanya mengajarkan sejarah desain grafis internasional.
Pengelolaan situs ini, termasuk pengumpulan datanya sejauh ini juga saya lakukan sendiri dari sebuah sudut di rumah saya di bilangan Bintaro, di selatan Jakarta. Tetapi ke depannya pengumpulannya akan menjadi semakin sistematis karena bisa dikatakan akan melibatkan hampir setiap insan desainer grafis di seluruh Indonesia
Maksudnya demikian: mulai tahun ini – DGI, didukung oleh ADGI (Asosiasi Desainer Grafis Indonesia) dan FDGI (Forum Desain Grafis Indonesia) – akan menyelenggarakan ajang penghargaan desain grafis tingkat nasional (baru pertama kali ini akan diselenggarakan): IGDA (Indonesian Graphic Design Award), yang malam penganugerahan (awarding) nya akan diadakan pada awal tahun 2010, dimana seluruh karya-karya (entries) yang masuk nominasi otomatis akan menjadi koleksi DGI dan Museum DGI. Dan untuk IGDA pertama ini kami akan menerima karya-karya yang diterbitkan lima tahun terakhir yaitu sejak tahun 2005 hingga 2009 – submission secara online dan offline – dimana yang online akan dipublikasikan melalui situs DGI atau situs IGDA, dan yang offline selain akan menjadi koleksi fisik MDGI juga direncanakan akan diterbitkan dalam sebuah buku. Dengan demikian upaya pengumpulan karya akan menjadi lebih sistematis dan tidak lagi dilakukan oleh saya sendiri
Mungkin ada baiknya menyimak sejarah situs DGI ini sendiri melalui catatan perjalanan singkatnya yang tertuang pada: “Situs Desain Grafis Indonesia (DGI) – Catatan Perjalanannya”.
Dan mengenai IGDA pada: “Selamat Datang IGDA!” atau pada rubrik “Reflection” yang saya tulis untuk majalah desain grafis Versus edisi #4.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
2. Juga kenapa dipilih online? Apakah sistemnya open contributor/volunteerism dan bagaimana me-manage-nya? Btw, sekarang masih pakai free blogging wordpress ya pak? Atau sudah punya webhosting?
Dipilih online karena keinginan agar sejarah desain grafis Indonesia bisa dengan cepat dibaca dan diserap oleh siapapun yang membutuhkannya dan didorong oleh keinginan agar dunia juga mengetahui bahwa desain grafis Indonesia eksis dan memiliki catatan perjalanannya sendiri. Dengan memanfaatkan teknologi virtual ini saya juga ingin memperlihatkan kepada dunia, peran desain grafis Indonesia dan perjalanannya sebagai bagian integral dari sejarah desain grafis internasional, sebagai perwujudan dari upaya yang lebih ambisius, yaitu meletakkan desain grafis Indonesia pada peta desain grafis dunia. Strateginya adalah dengan juga menyertakan tulisan-tulisan mengenai sejarah desain grafis dunia di DGI, upaya kecil yang ternyata berhasil memancing ratusan hits dari luar Indonesia ke DGI setiap harinya.
Ke depannya, situs DGI akan dikembangkan menjadi portal khusus desain grafis Indonesia yang direncanakan sebagai pusat pendataan, pusat studi, analisa dan pengembangan desain grafis Indonesia. Masih sedang dipertimbangkan apakah itu semua bisa dicapai cukup dengan sebuah web blog atau harus dalam bentuk web site, saya – dibantu oleh seorang sahabat mantan ketua jurusan DKV sebuah universitas terkemuka di Jakarta – akan meluncurkan DGI versi baru, rencananya pada ulang tahun ke-3 DGI pada tanggal 13 Maret 2010, atau mungkin juga sebelumnya.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
3. Kapan rencananya museum fisiknya akan selesai dan siapa yang saat ini ikut berkontribusi mempersiapkan (pendanaan, desain, konstruksi, dll)? Rencananya yg di Ciganjur itu ya pak? Kenapa dipilih tempat tsb?
Suatu hari pada sekitar 3 tahun yang lalu, sahabat lama saya, pelukis Arifien Neif ke rumah saya. Ngobrol-ngobrol, dia menawarkan supaya saya berkantor saja di rumahnya di Ciganjur. Tawaran ini tidak segera saya sambut karena saya memang belum membutuhkannya, saat itu saya sedang menikmati ‘nyaman’nya berkantor di rumah dan belum tahu sama sekali mengenai rumahnya selain terbatas pada isu bahwa rumahnya sangatlah artistik. Tawaran itu diulanginya kembali ketika Arifien berkunjung lagi ke rumah saya sekitar tahun lalu (2008) yang kemudian saya tanggapi lebih serius: “Bagaimana kalau saya pakai sebagai tempat berdiskusi?”. “Boleh”, jawabnya. Sepulang Arifien, saya jadi berpikir rumahnya pastilah besar sehingga boleh dipakai sebagai tempat berdiskusi. Maka keesokan harinya ketika Arifien datang lagi, saya pun nglunjak: “Bagaimana kalau dipakai sebagai museum?”
Dan Arifien ketika itu menjawab: “Bisa… sambil jalan”. Itulah awal cerita mengapa MDGI direncanakan berlokasi di Chandari, sebuah lahan seluas 8.000 m2 dimana terdapat studio lukis Arifien, yang nantinya akan dikembangkan menjadi creative cluster dan akan menjadi strategis dengan akan dibangunnya jalan tol yang akan melalui salah satu sisinya.
Sejauh ini, Arifien telah menyelesaikan draft gambar arsitektur Chandari Creative Cluster, Arifien selain pelukis memiliki latar belakang pernah bekerja di sebuah biro arsitek juga. Terlampir draft Chandari dimana Museum DGI akan menjadi bagiannya (attached).
Pendanaan pembangunannya selain dari tabungan Arifien sendiri kemungkinan harus dilakukan secara bergotongroyong dengan menarik dana dari industri-industri terkait yang memiliki perhatian.
Baru-baru ini seorang teman yang pengajar di DKV ITB, Riama Maslan – sebagai duta MDGI (tim survey) – ke Breda, Belanda, dimana terdapat museum desain grafis pertama di dunia. Mereka merasa surprise mendengar berita akan ada museum desain grafis kedua!
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
4. Apakah setelah museum fisiknya selesai platform online ini akan tetap dilanjutkan? Apa akan dikembangkan serupa sistem wiki? –soalnya sepertinya menarik untuk tetap dihidupkan pak…–
Terima kasih Anissa atas sarannya, tentu DGI online akan berlanjut, bukan seperti Wikipedia, tapi akan menjadi pusat studi dan pengembangan bidang desain grafis Indonesia.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
5. Kalau boleh tahu sedikit sejarah disain grafis di Indonesia, seperti siapa yg memulai apa yg bisa dibilang disain grafis Indonesia itu setelah jaman Belanda. Apa saja medianya dan bagaimana perkembangannya? –soalnya org awam seperti saya tahunya desain grafis yg cuma pakai program komputer pak –
Belum lama ini di ajang FGDexpo 2009, DGI hadir dengan antara lain menampilkan “Garis Waktu Desain Grafis Indonesia”. Garis waktu ini saya siapkan tidak terlalu detail demi konsumsi pengunjung saat FGDexpo 2009 berlangsung, tapi sedikit demi sedikit sedang saya sempurnakan terus, karena di situs DGI sebenarnya sudah banyak terkumpul data yang tinggal dirangkaikan/disatukan saja. Mudah-mudahan ini membantu Anissa memperoleh gambaran yang lebih mendekati mengenai desain grafis Indonesia.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
6. Mungkin seperti juga seni visual yang lain, ada yg contemporary, ada yg mainstream, ada yg high art, ada yg aplikatif. Kalau di dunia disain grafis itu seperti apa ya pak?
Yang kontemporer tentu ada terus, karena apa yang kita hasilkan hari ini dengan sendirinya bersifat kontemporer dalam kaitannya dengan waktu. Istilah mainstream adalah dalam kaitannya dengan gaya (style), dalam desain grafis tentu juga ada karya dengan gaya mainstream tetapi pada pendapat saya, desain grafis tidak harus diupayakan mengikuti trend, kaidah utamanya adalah komunikatif, karena itu desain grafis juga disebut sebagai desain komunikasi visual. Di dalam desain grafis tidak dikenal istilah high art, dan dengan kecenderungan semakin meleburnya desain grafis dan seni visual (banyak praktek-praktek kerja desain grafis diberlakukan pada seni visual) maka istilah ini pun sudah menjadi tidak relevan. Gerakan Seni Rupa Baru (GSRB) yang timbul pada tahun 1975 adalah embrio dari kecenderungan ini. Salah satu konsep GSRB adalah meniadakan batasan antara seni murni dan seni terap (baca: seni tidak murni), dan semua fenomena kesenian termasuk desain pun kemudian dianggap sederajat.
. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .
7. Sekarang ini apa yg masih menjadi kendala perkembangan dan apresiasi terhadap disain grafis?
Apresiasi terhadap desain grafis dewasa ini sudah jauh melampaui apa yang kami alami di tahun 1970an dimana baru ada satu dua studio desain grafis dan juga satu dua sekolah desain grafis. Kini sekolah-sekolah DKV menjadi salah satu tujuan utama banyak lulusan SMA, jumlahnya di seluruh Indonesia konon sudah mencapai sekitar 70 institusi. Toh masih ada jarak seperti yang Anissa catat juga di atas, yaitu pengertian terhadap keprofesionalannya yang di benak banyak orang masih suka dianggap sebagai orang yang asal bisa menjalankan komputer grafis saja (hal ini tentu didukung oleh fakta bahwa memang banyak orang yang menjalankan praktek sebagai desainer grafis hanya karena fasih menjalankan satu dua program komputer saja). Mereka sering memberikan jasa secara gratis dengan cara memasukkan biaya desain ke total harga cetak yang berakibat pada kurangnya apresiasi klien terhadap jasa ini. Ke depannya, ADGI bersama Depkominfo sedang mengupayakan pemberlakuan sertifikasi profesi bagi desainer grafis. Kalau ini bisa diberlakukan, khalayak akan memperoleh pengertian mengenai perbedaan antara desainer grafis dengan desainer gratis
Jakarta, 1 September 2009
•••
About this entry
You’re currently reading “Wawancara dengan Anissa S Febrina/The Jakarta Post,” an entry on "in quotes"
- Published:
- September 1, 2009 / 7:00 am
- Category:
- Design


No comments yet
Jump to comment form | comment rss [?] | trackback uri [?]